Jakarta – Prospek fundamental PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA) diproyeksikan tetap positif hingga akhir tahun 2026, meski harga saham pengelola bioskop Cinema XXI tersebut masih tertekan.
Data keuangan menunjukkan pertumbuhan pendapatan perusahaan mencapai Rp1,1 triliun pada kuartal I-2026 atau meningkat 18,2% secara tahunan.
Namun, performa pasar berbanding terbalik lantaran harga saham CNMA tercatat mengalami koreksi sebesar 24,79% secara year to date hingga 24 Juli 2026.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menyatakan bahwa kondisi ini mencerminkan dinamika pasar yang lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal dibandingkan fundamental perusahaan.
“Ini merupakan kasus klasik di mana pasar lebih banyak memperhitungkan risk premium dan likuiditas, bukan hanya kinerja laba,” ungkap Wafi sebagaimana dilansir pada Jumat (24/7/2026).
Salah satu pemicu utama tekanan jual pada saham CNMA adalah keluarnya emiten tersebut dari indeks MSCI Small Cap.
Peristiwa ini secara otomatis memicu arus keluar dana pasif atau passive outflow yang cukup signifikan dari investor institusi.
Meski demikian, prospek kinerja CNMA sepanjang tahun 2026 dinilai masih cukup konstruktif oleh para pelaku pasar.
Semester kedua tahun ini diprediksi akan mencatatkan capaian yang lebih kuat dibandingkan periode enam bulan pertama.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Kevin Yudha Pratama, menambahkan bahwa pertumbuhan jumlah penonton harus dibarengi dengan efisiensi operasional agar berdampak pada laba bersih.
“Bisnis bioskop memiliki beban tetap yang cukup besar, sehingga kenaikan jumlah penonton belum tentu langsung tercermin pada pertumbuhan laba bersih,” tutur Kevin.
Optimisme pasar kini tertuju pada kehadiran deretan film blockbuster Hollywood yang dijadwalkan tayang pada semester II-2026.
Judul-judul besar seperti Avengers: Doomsday, Spider-Man: Brand New Day, dan Dune: Part Three diyakini menjadi katalis utama bagi perusahaan.
Wafi memandang pipeline film tersebut sangat kuat karena waralaba Avengers secara historis memiliki basis penggemar yang besar di Indonesia.
“Dengan lineup tersebut, potensi kinerja semester II bisa berada di atas rata-rata secara musiman,” tambahnya.
Namun, para analis juga memberikan catatan mengenai risiko yang masih mengintai, terutama terkait fluktuasi nilai tukar rupiah.
Pelemahan rupiah hingga kisaran Rp18.000 per dolar AS berisiko meningkatkan beban biaya lisensi film dan impor peralatan pendukung.
Di sisi lain, analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, berpendapat bahwa perusahaan memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan harga tiket saat film blockbuster ditayangkan.
“Investor dapat mulai mengapresiasi visibilitas pendapatan semester II seiring kepastian jadwal tayang film-film besar,” jelas Abida.
Secara keseluruhan, pemulihan tren harga saham CNMA masih memerlukan stabilisasi pasar yang lebih luas serta konsistensi kinerja keuangan dalam beberapa kuartal ke depan.
























