Film Hollywood Dorong Kinerja Cinema XXI, Analis Berikan Rekomendasi Saham

persen

Jakarta – PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA) diproyeksikan mencatatkan akselerasi kinerja keuangan yang signifikan pada paruh kedua tahun 2026.

Optimisme ini bersandar pada deretan film global berskala besar yang dijadwalkan tayang di jaringan bioskop nasional dalam beberapa bulan ke depan.

Equity Research Associate Samuel Sekuritas Indonesia, Fadhlan Banny, menilai kehadiran film-film populer seperti Minions, Jumanji, Spider-Man, hingga seri terbaru Avengers akan menjadi katalis utama bagi perusahaan.

“Rangkaian film internasional tersebut berpotensi mendorong hingga 20 juta penonton,” ujarnya dalam riset yang dikutip Samuel Sekuritas, Sabtu (11/7/2026).

Lonjakan jumlah penonton ini diharapkan mampu mendongkrak pendapatan emiten pengelola bioskop tersebut secara konsisten.

Seiring dengan proyeksi tersebut, Samuel Sekuritas memutuskan untuk tetap mempertahankan rekomendasi beli atau buy untuk saham berkode CNMA.

Keputusan ini diambil meskipun terdapat penyesuaian penurunan proyeksi kinerja tahun 2026 sebesar 5,5 persen.

Langkah konservatif tersebut dilakukan sebagai respons terhadap tantangan makroekonomi yang masih menekan pasar domestik.

Faktor-faktor seperti pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan biaya operasional, serta lingkungan suku bunga tinggi menjadi pertimbangan utama dalam revisi target tersebut.

Sebagai konsekuensinya, target harga saham CNMA kini disesuaikan menjadi Rp110 per lembar saham dari posisi sebelumnya di angka Rp170 per lembar saham.

Penyesuaian ini menggunakan pendekatan valuasi yang lebih ketat dengan metode price to earnings ratio (PER).

Meskipun target harga diturunkan, valuasi saham CNMA dinilai masih berada pada level yang menarik bagi investor.

Harga saham perusahaan telah mengalami koreksi sekitar 23 persen secara year-to-date sejak awal tahun.

Estimasi PER untuk tahun 2027 berada di kisaran 8,6 kali, yang mencerminkan diskon sekitar 40 persen dibandingkan dengan rata-rata sektornya.

Daya tarik tambahan bagi para pemegang saham adalah kebijakan pembagian dividen yang agresif.

Perusahaan diketahui memiliki rasio pembagian dividen atau payout ratio hingga 100 persen.

Estimasi imbal hasil dividen atau dividend yield diproyeksikan mencapai level 10,4 persen.

Dari sisi operasional, kinerja perusahaan sepanjang semester I-2026 tergolong moderat dengan total penonton industri mencapai 52,7 juta dari 259 judul film.

CNMA diperkirakan menguasai pangsa pasar sebesar 70 persen, atau setara dengan 36,7 juta penonton selama enam bulan pertama tahun ini.

Angka tersebut mencatat penurunan sebesar 13,6 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Namun, tren pemulihan mulai terlihat secara kuartalan dengan kenaikan jumlah penonton sebesar 37,5 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Kinerja keuangan pada kuartal II-2026 diprediksi menghasilkan pendapatan sekitar Rp1,5 triliun dengan laba bersih antara Rp200 miliar hingga Rp250 miliar.

Capaian tersebut dinilai masih sesuai dengan ekspektasi pasar, yakni mencakup 30 hingga 32 persen dari target kinerja tahunan.

Selain mengandalkan film internasional, kontribusi dari sektor makanan dan minuman (F&B) diprediksi akan terus meningkat dan memperkuat margin laba.

Basis penonton film lokal yang setia pada genre horor, drama, dan komedi juga tetap menjadi pilar pendukung bagi stabilitas bisnis perusahaan.

Kendati demikian, analis tetap memberikan catatan waspada terkait risiko penurunan antusiasme penonton terhadap judul film tertentu.

Tekanan ekonomi domestik secara luas juga masih menjadi variabel yang perlu dicermati agar tidak berdampak negatif pada daya beli masyarakat dalam menikmati hiburan bioskop.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar