Jakarta – Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, secara resmi mempertahankan peringkat Indonesia Investment Authority (INA) pada level “BBB” dengan prospek negatif.
Keputusan ini mencerminkan kaitan erat antara profil kredit lembaga pengelola investasi negara tersebut dengan peringkat utang pemerintah Indonesia.
Dalam pengumuman resminya, Fitch Ratings menyatakan, “Prospek negatif pada IDR jangka panjang INA sejalan dengan prospek pemerintah Indonesia,” Kamis (17/9/2026).
Selain peringkat jangka panjang, Fitch juga menetapkan peringkat gagal bayar penerbit jangka pendek dalam valuta asing di level “F2”.
Di level domestik, INA tetap mempertahankan peringkat nasional jangka panjang di posisi “AAA(idn)” dengan prospek stabil.
Peringkat nasional jangka pendek juga dikonfirmasi berada pada level “F1+(idn)”.
Fitch memandang bahwa dukungan luar biasa dari pemerintah pusat terhadap INA memiliki tingkat kepastian yang sangat tinggi.
Berdasarkan kriteria Government-Related Entities (GRE), Fitch memberikan skor dukungan sebesar 45 dari skala maksimal 60.
Penilaian ini didasarkan pada tanggung jawab pemerintah yang kuat dalam mengawasi operasional INA.
Lembaga tersebut mencatat bahwa INA bertanggung jawab secara langsung kepada Presiden Republik Indonesia.
Pemerintah juga memegang kendali penuh dalam penunjukan dewan pengawas serta persetujuan rencana bisnis strategis.
Sejak berdiri, pemerintah telah menyuntikkan modal awal sebesar Rp 30 triliun ke dalam lembaga ini.
Selain itu, terdapat kontribusi ekuitas berupa saham di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk senilai Rp 45 triliun.
Kepemilikan saham pada dua bank pelat merah tersebut menjadi pilar pendapatan berulang bagi INA.
Sepanjang tahun 2025, dividen dari kedua bank tersebut mencapai Rp 4,6 triliun atau setara dengan 55% dari total pendapatan INA.
Fitch menyoroti bahwa keterkaitan ini menciptakan insentif kuat bagi pemerintah untuk terus memberikan dukungan finansial.
Sepanjang tahun 2025, INA mencatatkan realisasi investasi sebesar Rp 15,7 triliun di berbagai sektor prioritas.
Fokus mandat INA meliputi pembangunan infrastruktur, energi, transformasi digital, kesehatan, hingga industri bahan canggih.
“Mandat INA tetap berfokus pada bidang-bidang prioritas yang mendukung tujuan pembangunan pemerintah secara lebih luas,” catat Fitch Ratings.
Kegagalan INA dalam memenuhi kewajiban finansial dinilai berisiko mengganggu kepercayaan investor global terhadap iklim investasi Indonesia.
Meski demikian, Fitch menilai risiko tersebut masih relatif terbatas karena struktur utang INA yang rendah.
Secara finansial, INA membukukan kinerja positif dengan laba bersih mencapai Rp 7,4 triliun pada 2025, meningkat dibanding tahun sebelumnya.
Struktur permodalan lembaga ini pun dikategorikan konservatif karena lebih mengandalkan ekuitas dan dana mitra dibandingkan utang.
Meskipun saldo kas mengalami penurunan dari Rp 12,8 triliun menjadi Rp 9,8 triliun, likuiditas INA dinilai tetap memadai untuk mendukung operasional.




















