Jakarta – Keputusan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi kisaran 3,75 persen hingga 4 persen memicu tantangan baru bagi stabilitas pasar keuangan domestik.
Langkah kebijakan moneter yang diumumkan pada Kamis (17/9/2026) ini menandai penyesuaian suku bunga pertama sejak Juli 2023.
Proyeksi terbaru The Fed mengindikasikan median suku bunga acuan berada di level 4,1 persen pada akhir 2026.
Data tersebut menunjukkan adanya potensi satu kali kenaikan suku bunga lanjutan sebelum tahun berakhir.
Kondisi ini diprediksi akan memicu penguatan nilai tukar dolar AS secara berkelanjutan.
Imbal hasil atau yield surat utang pemerintah Amerika Serikat juga diperkirakan akan mengalami peningkatan.
Dampaknya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama.
Lead Economist Danamon, Irman Faiz, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga The Fed ini memang meningkatkan tekanan pada pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Untuk kenaikan Fed 25 bps ke 3,75 persen-4 persen memang meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan emerging markets, termasuk Indonesia,” ujar Irman, Kamis (17/9/2026).
Dia menambahkan bahwa dot plot terbaru menunjukkan ruang kenaikan yang masih terbuka lebar.
“Apalagi dot plot terbaru menunjukkan median Fed Funds Rate akhir 2026 di 4,1 persen, yang mengindikasikan masih ada ruang satu kali kenaikan lagi,” ungkapnya.
Investor global diprediksi akan menjadi lebih selektif dalam menempatkan modal mereka di negara-negara berkembang.
Hal ini dipicu oleh kenaikan yield obligasi AS yang membuat aset di negara maju menjadi lebih menarik.
Meski demikian, pasar Indonesia dinilai masih memiliki daya tarik bagi investor asing karena menawarkan selisih imbal hasil yang relatif kompetitif.
Irman mencatat bahwa aliran modal asing sepanjang September masih menunjukkan net inflow, terutama pada pasar obligasi.
Namun, ia mengingatkan bahwa pergerakan arus modal saat ini cenderung lebih volatil dibandingkan periode sebelumnya.
“Jadi risikonya lebih kepada arus modal yang menjadi lebih selektif dan sensitif terhadap perubahan yield global,” tegasnya.
Menanggapi dinamika eksternal tersebut, Bank Indonesia (BI) diprediksi akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan depan.
BI diperkirakan akan memprioritaskan penggunaan instrumen lain sebelum memutuskan perubahan suku bunga.
“BI masih dapat menggunakan intervensi NDF, spot dan DNDF serta instrumen moneter lainnya sebagai first line of defense,” jelas Irman.
Ketahanan eksternal Indonesia saat ini didukung oleh cadangan devisa yang cukup kuat.
Posisi cadangan devisa per akhir Agustus 2026 tercatat sebesar 146,5 miliar dolar AS.
Jumlah tersebut meningkat dari posisi Juli 2026 yang berada di angka 145,3 miliar dolar AS.
Cadangan devisa ini setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Kendati demikian, ruang bagi BI untuk mempertahankan kebijakan suku bunga saat ini dinilai semakin sempit jika tekanan rupiah terus berlanjut.
Jika nilai tukar rupiah bergerak persisten di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS, BI mungkin akan mengambil langkah antisipatif.
“Ruang untuk menahan suku bunga acuan semakin sempit,” kata Irman.
Ia menambahkan bahwa kenaikan suku bunga secara pre-emptive bisa menjadi opsi yang diambil otoritas moneter.
“Kami masih melihat BI Rate berpotensi mencapai 6,25 persen pada akhir tahun,” pungkasnya.



















