Jakarta – PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) bersiap melakukan transformasi bisnis besar-besaran dengan merambah sektor pertambangan batu bara kokas (coking coal).
Langkah strategis ini ditempuh melalui aksi korporasi penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue.
Perusahaan berencana menerbitkan maksimal 215,09 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 100 per lembar.
Harga pelaksanaan saham baru tersebut telah ditetapkan di angka Rp 126 per saham.
Jika seluruh saham dapat diserap oleh pasar, FORU berpotensi meraup dana segar hingga Rp 27,1 triliun.
Jumlah saham baru tersebut setara dengan 99,78% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh perusahaan setelah aksi ini tuntas.
Sekretaris Perusahaan FORU, Hadi Pranggono, menjelaskan bahwa setiap pemegang 100 saham lama berhak atas 46.235 HMETD.
“Setiap satu HMETD dapat digunakan untuk membeli satu saham baru dengan harga Rp 126 per saham,” ujar Hadi sebagaimana tercantum dalam keterbukaan informasi, Selasa (21/7/2026).
Pemegang saham pengendali, IMR Asia Holding Pte Ltd (IMR AH), dipastikan akan mengambil porsi mayoritas dalam aksi ini.
IMR AH berencana mengeksekusi 165,22 miliar HMETD dengan nilai mencapai Rp 20,82 triliun.
Setoran modal dari IMR AH tidak dilakukan dalam bentuk tunai, melainkan melalui skema penyertaan modal dalam bentuk selain uang atau inbreng.
Aset yang disetorkan berupa 10.780 saham seri A PT Borneo Prima (BP) yang merepresentasikan 49% kepemilikan di perusahaan tambang tersebut.
Melalui mekanisme ini, bisnis pertambangan Borneo Prima akan resmi masuk ke dalam struktur usaha FORU.
“Rencana inbreng merupakan langkah strategis yang akan perseroan ambil seiring dengan perubahan kegiatan usaha perusahaan menjadi perusahaan induk untuk pengembangan usaha pertambangan batu bara,” kata Hadi dalam keterangannya, Senin (20/7/2026).
Nantinya, dana yang terkumpul dari rights issue akan disalurkan oleh FORU kepada Borneo Prima dalam bentuk pinjaman.
Masuknya Borneo Prima diprediksi akan mengubah skala bisnis FORU secara material.
Berdasarkan perhitungan proforma, pendapatan usaha perseroan diproyeksikan melonjak dari Rp 5,41 miliar menjadi Rp 195,66 miliar pasca-konsolidasi.
Ekuitas perusahaan juga diperkirakan akan naik drastis dari Rp 19,23 miliar menjadi Rp 7,15 triliun.
Kinerja keuangan pun diprediksi membaik dengan perubahan posisi dari rugi bersih Rp 4,15 miliar menjadi laba bersih Rp 11,94 miliar.
Sementara itu, sisa porsi rights issue yang berasal dari investor publik akan disetorkan secara tunai dengan estimasi nilai mencapai Rp 6,28 triliun.
Seluruh rencana aksi korporasi ini masih menunggu persetujuan resmi dari para pemegang saham.
FORU dijadwalkan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu (22/7/2026) untuk meminta restu terkait rencana tersebut.
























