Jakarta – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatatkan pembalikan kinerja finansial yang signifikan sepanjang semester I-2026 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp 607,48 miliar.
Capaian tersebut merupakan kontras tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu, di mana perseroan mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 580,01 miliar.
Laporan keuangan per 30 Juni 2026 menunjukkan pendapatan bersih perusahaan tumbuh sebesar 28,45% secara tahunan (year on year) menjadi Rp 10,99 triliun.
Kenaikan laba didorong oleh peningkatan pendapatan dari berbagai lini bisnis utama, termasuk jasa pengiriman yang menyumbang Rp 3,2 triliun.
Selain itu, pendapatan dari sektor pinjaman mencatatkan lonjakan paling impresif sebesar 64,67% secara tahunan menjadi Rp 2,7 triliun.
Secara operasional, perusahaan berhasil mencatatkan laba usaha sebesar Rp 781,88 miliar, berbalik dari posisi rugi usaha Rp 171,59 miliar pada semester I-2025.
Meskipun fundamental keuangan menunjukkan penguatan, harga saham GOTO di Bursa Efek Indonesia justru masih tertahan di level Rp 50 per saham.
Level tersebut merupakan batas bawah perdagangan saham atau yang dikenal sebagai saham “gocap” dalam mekanisme pasar modal domestik.
Kondisi harga yang stagnan ini telah berlangsung selama hampir dua bulan terakhir di tengah sentimen kebijakan pemerintah.
Sentimen negatif muncul akibat penetapan pemangkasan komisi aplikasi layanan ojek online roda dua menjadi 8% yang efektif berlaku sejak 1 Juli 2026.
Di balik tekanan harga tersebut, para analis pasar modal justru tetap menunjukkan optimisme tinggi terhadap prospek emiten teknologi ini.
Berdasarkan konsensus Bloomberg, sebanyak 24 perusahaan sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham GOTO.
Tujuh perusahaan sekuritas lainnya menyarankan untuk menahan (hold), sementara tidak ada analis yang memberikan rekomendasi jual.
Rata-rata target harga saham GOTO menurut konsensus analis berada di level Rp 80 per saham, yang mencerminkan potensi kenaikan sekitar 60%.
Equity Research Analyst OCBC Sekuritas, Gani, menuturkan bahwa fundamental perseroan yang solid menjadi alasan utama dominasi rekomendasi beli oleh para analis.
“Konsensus analis sekarang memang masih condong ke buy, karena selain fundamental juga harga sudah di level Rp 50 per saham, risiko penurunan juga sangat rendah,” ujar Gani, dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, level harga saat ini menarik bagi investor dengan cakrawala investasi jangka menengah hingga panjang karena ruang penurunan harga yang semakin terbatas.
Beberapa institusi keuangan besar seperti Maybank Sekuritas dan UOB Kay Hian Sekuritas tetap mempertahankan pandangan positif mereka.
Maybank Sekuritas menetapkan target harga di angka Rp 80, sementara UOB Kay Hian memberikan target harga di level Rp 78 per saham.
Morgan Stanley turut memberikan pandangan serupa dengan rekomendasi equal weight dan target harga di level Rp 79 per saham.
Meski demikian, pelaku pasar tetap diingatkan untuk mencermati faktor likuiditas perdagangan saham yang mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir.
Keputusan investasi di saham GOTO saat ini disarankan untuk mempertimbangkan dampak lanjutan dari kebijakan regulator terhadap model bisnis perusahaan ke depan.




















