Harga CPO Berpotensi Terus Meningkat Hingga Akhir Tahun, Cermati Pemicunya

Ikhwan Setiawan

Harga CPO Berpotensi Terus Meningkat Hingga Akhir Tahun, Cermati Pemicunya

Jakarta – Harga crude palm oil (CPO) diprediksi akan terus berada dalam tren penguatan hingga penutupan tahun 2026.

Sentimen positif ini dipicu oleh kebijakan pemerintah yang mengalokasikan sebagian besar produksi minyak sawit nasional untuk program mandatori biodiesel B50.

Keterbatasan pasokan di pasar global akibat tingginya konsumsi domestik menjadi motor utama kenaikan harga komoditas ini.

Berdasarkan data Trading Economics pada Jumat (4/9/2026), harga CPO sempat berada di posisi RM 4.897 per ton.

Meski sempat terkoreksi tipis 0,14% secara harian, performa mingguan menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 5,81%.

Peningkatan harga ini mencerminkan optimisme pasar terhadap ketatnya ketersediaan CPO di masa depan.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti dampak langsung dari implementasi B50 terhadap neraca perdagangan sawit.

“Produksi CPO di Indonesia itu 50% digunakan untuk B50, sehingga produksi yang digunakan untuk ekspor berkurang. Ini yang membuat harga CPO naik,” ujarnya dikutip dari pernyataan resmi pada Jumat (4/9/2026).

Kebijakan ini secara otomatis mengurangi porsi CPO yang tersedia untuk pasar internasional.

Di sisi lain, permintaan dari negara-negara konsumen utama tetap menunjukkan ketahanan yang kuat.

Negara-negara seperti Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan dipastikan tetap mempertahankan volume impor untuk kebutuhan minyak goreng.

“Permintaan untuk minyak goreng di negara-negara tradisional seperti Tiongkok, India, kemudian Jepang, kemudian Korea Selatan, ini walaupun dalam kondisi apapun mereka tetap akan impor,” kata Ibrahim.

Kombinasi antara serapan domestik yang masif dan permintaan ekspor yang stabil menciptakan defisit pasokan di pasar global.

Ketidakseimbangan antara pasokan yang terbatas dan permintaan yang terjaga ini menjadi fondasi kuat bagi kenaikan harga.

Proyeksi penguatan harga ini diperkirakan akan berlangsung hingga memasuki tahun 2027.

Ibrahim memproyeksikan harga CPO berpotensi menembus level RM 5.200 per ton pada akhir tahun ini.

Faktor keberlanjutan pasokan dari produsen utama seperti Indonesia dan Malaysia tetap menjadi variabel penentu di pasar komoditas.

Para pelaku pasar kini tengah mencermati efektivitas distribusi biodiesel B50 di lapangan.

Implementasi kebijakan ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga mengubah struktur pasar CPO secara global.

Sejauh ini, pasar bereaksi positif terhadap kebijakan tersebut dengan terus menaikkan harga komoditas.

Sentimen bullish ini diperkirakan akan terus berlanjut sepanjang sisa tahun 2026.

Stabilitas ekonomi di negara-negara pengimpor utama akan menjadi faktor penentu berikutnya bagi pergerakan harga.

Namun, dengan keterbatasan pasokan domestik, tekanan harga ke atas diperkirakan tetap dominan.

Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai pemain kunci yang mampu memengaruhi harga CPO dunia melalui kebijakan energi domestiknya.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar