Jakarta – Eskalasi ketegangan geopolitik global kembali menjadi katalis utama yang mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia hingga memasuki awal September 2026.
Data pasar menunjukkan tren penguatan yang signifikan pada komoditas energi ini di tengah kekhawatiran pelaku pasar akan potensi gangguan distribusi pasokan minyak internasional.
Hingga Jumat (4/9/2026) malam, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat bertengger di level US$ 90,311 per barel.
Angka tersebut mencerminkan kenaikan mingguan sebesar 8,31% dan lonjakan bulanan mencapai 20,09%.
Pada periode yang sama, harga minyak jenis Brent berada di posisi US$ 95,229 per barel.
Tercatat, harga Brent mengalami penguatan 8,05% dalam kurun waktu sepekan serta meningkat 19,81% dalam periode sebulan terakhir.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti adanya anomali di pasar komoditas saat ini.
Menurutnya, secara fundamental, pasar minyak mentah global sebenarnya tengah mengalami kondisi kelebihan pasokan atau oversupply.
“Sebenarnya terjadi oversupply. Oversupply yang begitu besar, tetapi karena masalah geopolitik,” ujar Ibrahim dikutip dari Ibrahim Assuaibi, Jumat (4/9/2026).
Ibrahim menjelaskan bahwa tekanan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, serta konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina, menjadi faktor dominan yang menahan harga tetap tinggi.
Faktor-faktor tersebut secara efektif mengabaikan sentimen fundamental mengenai melimpahnya stok minyak di pasar global.
Pandangan senada datang dari Analis Mata Uang sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono.
Ia menilai penguatan harga energi saat ini merupakan konsekuensi dari eskalasi friksi di titik sumbat logistik vital serta dimulainya siklus penumpukan stok menjelang musim dingin.
“Tindakan kinetik langsung antara militer AS dan Iran di Pulau Larak serta serangan balasan di pos perbatasan Yordania telah mengubah persepsi pasar dari ancaman perang kata-kata menjadi risiko disrupsi fisik jalur pelayaran tanker,” jelas Wahyu sebagaimana dikutip dari Traderindo.com, Jumat (4/9/2026).
Situasi ini memicu kenaikan tarif asuransi risiko perang serta mendorong kilang-kilang di seluruh dunia melakukan aksi lindung nilai atau hedging secara intensif.
Di sisi lain, kebijakan disiplin kuota produksi yang diterapkan oleh OPEC+ turut memberikan fondasi kuat bagi harga minyak untuk terus bertahan di level tinggi.
Menatap proyeksi akhir tahun 2026, Wahyu memperkirakan harga WTI akan bergerak di kisaran US$ 86 hingga US$ 98 per barel dalam skenario dasar.
Sementara itu, harga minyak Brent diprediksi akan berada di rentang US$ 91 hingga US$ 104 per barel.
Namun, Wahyu memberikan catatan bahwa jika terjadi insiden maritim skala besar di Selat Hormuz, harga berpotensi melambung lebih tinggi.
Dalam skenario tersebut, WTI dapat mencapai kisaran US$ 105 hingga US$ 115 per barel, sementara Brent bisa menembus angka US$ 110 hingga US$ 120 per barel.
Senada dengan proyeksi tersebut, Ibrahim memperkirakan harga WTI akan stabil di level US$ 90-an per barel.
Adapun untuk harga minyak Brent, Ibrahim memproyeksikan angka di kisaran US$ 100 per barel hingga penutupan tahun 2026.























