Harga Emas Anjlok 2% Dipicu Lonjakan Minyak dan Suku Bunga AS

Harga Emas Anjlok 2% Dipicu Lonjakan Minyak dan Suku Bunga AS

New York – Harga emas dunia mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan Kamis (23/7/2026).

Nilai logam mulia tersebut anjlok lebih dari 2% setelah sempat mencatatkan level tertinggi dalam dua pekan terakhir pada hari sebelumnya.

Data pasar menunjukkan harga emas spot merosot 2,1% menjadi US$ 4.041,59 per ons troi pada pukul 09.14 EDT.

Penurunan ini juga menyeret kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus yang melemah 2,6% ke posisi US$ 4.043,50 per ons troi.

Gejolak di pasar energi menjadi katalis utama di balik koreksi harga emas yang terjadi saat ini.

Harga minyak mentah Brent menembus angka US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Mei.

Lonjakan harga energi tersebut dipicu oleh serangan kelompok Houthi Yaman terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.

Situasi geopolitik ini memicu kekhawatiran global mengenai gangguan pasokan minyak yang berpotensi meluas di luar Selat Hormuz.

Dampak kenaikan harga energi secara langsung memicu ekspektasi inflasi yang kembali menguat di pasar global.

Kondisi tersebut memperkuat spekulasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

“Kenaikan imbal hasil obligasi menjadi musuh utama bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil,” ujar analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff.

Pernyataan tersebut menyoroti bagaimana aset berbunga menjadi lebih kompetitif dibandingkan emas di tengah ketidakpastian ekonomi.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat melonjak hingga lebih dari 1% ke level tertinggi dalam satu tahun terakhir.

Di saat bersamaan, indeks dolar AS menguat 0,3% yang membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang asing.

Sentimen pasar kini tertuju pada rapat kebijakan moneter The Fed yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.

Investor menanti pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, untuk memperoleh kejelasan mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September telah melonjak hingga 80%.

Angka tersebut mencatat peningkatan signifikan dibandingkan posisi 68% pada hari sebelumnya.

Meskipun konsensus pasar memprediksi suku bunga akan tetap stabil pada pertemuan pekan depan, kewaspadaan investor tetap tinggi.

Pasar bereaksi terhadap potensi pernyataan hawkish atau dovish dari otoritas moneter AS yang dapat memicu volatilitas lanjutan.

Dampak pelemahan ini tidak hanya dirasakan oleh emas, namun juga merembet ke logam mulia lainnya di pasar komoditas.

Harga perak spot anjlok 4,3% menjadi US$ 57,15 per ons troi.

Platinum terpantau terkoreksi 3,1% ke level US$ 1.593,17 per ons troi.

Sementara itu, paladium turut melemah sebesar 2,8% menjadi US$ 1.255 per ons troi pada penutupan perdagangan hari ini.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar