Jakarta – Keberhasilan menjaga wilayah dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini menjadi instrumen baru bagi desa dalam menggerakkan roda perekonomian lokal.
Upaya mitigasi bencana tidak lagi sekadar menjadi kewajiban pemadaman api, melainkan bertransformasi menjadi sektor produktif yang menghasilkan keuntungan finansial bagi masyarakat.
Strategi ini diimplementasikan melalui program “Desa Bebas Api” yang digulirkan oleh PT Triputra Agro Persada Tbk (TAP) sejak tahun 2020.
Perusahaan memberikan insentif sebesar Rp50 juta kepada setiap desa yang terbukti mampu mempertahankan wilayahnya bebas dari karhutla selama satu tahun penuh.
Kebijakan ini menggeser peran masyarakat dari sekadar tim pemadam kebakaran menjadi subjek utama dalam sistem pencegahan dini yang terorganisir.
Dana insentif tersebut dialokasikan untuk berbagai kebutuhan strategis, mulai dari penguatan Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) hingga pengadaan sarana pemadaman yang memadai.
Lebih jauh, dana tersebut juga diarahkan sebagai modal pengembangan unit usaha di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Dampak positif dari program ini telah dirasakan secara nyata oleh warga Desa Pelawan dan Desa Tepian Terap di Kecamatan Sangkulirang, Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Kedua wilayah tersebut berada di bawah lingkup operasional anak usaha TAP, yakni PT Etam Bersama Lestari (EBL), yang konsisten menjaga zero karhutla selama beberapa tahun terakhir.
“Harapannya melalui reward ini, desa memiliki motivasi untuk menjaga areanya bebas Karhutla,” ujar Senior Estate Manager PT EBL, Eri Arnanta Ginting, Rabu (16/9/2026).
Di Desa Pelawan, dana insentif tahun 2024 dikelola secara kreatif untuk mengembangkan unit usaha penyewaan tenda dan budidaya jamur tiram.
Ketua KTPA Desa Pelawan menjelaskan bahwa dana tersebut digunakan untuk membeli tarup yang kini menjadi aset desa untuk disewakan bagi berbagai kegiatan warga, termasuk hajatan.
Langkah serupa dilakukan oleh warga Desa Tepian Terap yang menyulap dana reward menjadi modal awal bagi BUMDes Jiwata Energi.
Mereka memilih sektor peternakan kambing sebagai unit usaha produktif untuk meningkatkan pendapatan asli desa.
Basirun, anggota BUMDes Jiwata Energi yang mengelola peternakan tersebut, memaparkan bahwa modal dari perusahaan digunakan untuk membangun kandang serta pengadaan bibit ternak.
“Dari reward tersebut kami buka usaha peternakan kambing ini dari nol, mulai dari bangun kandang sampai beli bibit. Sekarang hasilnya lumayan buat tambah pemasukan desa,” kata Basirun, dikutip dari pernyataan resmi perusahaan, Rabu (16/9/2026).
Skema insentif ini menciptakan ekosistem di mana kelestarian lingkungan berbanding lurus dengan kesejahteraan ekonomi masyarakat desa.
Dengan adanya keterlibatan aktif warga, potensi terjadinya karhutla dapat ditekan secara signifikan melalui sistem pengawasan berbasis komunitas.
Keberlanjutan program ini diharapkan dapat terus menjadi pemicu bagi desa-desa lain di sekitar wilayah operasional perusahaan untuk lebih proaktif dalam menjaga integritas lahan mereka.
Selain memperkuat ketahanan ekonomi, program ini juga mempererat koordinasi antara pihak swasta dan pemerintah desa dalam mengantisipasi risiko bencana lingkungan yang lebih luas.




















