New York – Harga emas dunia mengalami lonjakan signifikan sepanjang pekan ini seiring dengan memudarnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan agresif kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).
Logam mulia tersebut kini berada di jalur yang tepat untuk mencatatkan kenaikan mingguan pertamanya sejak Mei lalu.
Data pasar menunjukkan harga emas spot sempat menyentuh level mendekati USD 4.200 per troy ons.
Secara kumulatif, komoditas ini telah membukukan penguatan sebesar 2,2 persen dalam kurun waktu lima hari perdagangan terakhir.
Pada penutupan sesi Jumat (3/7), harga emas spot tercatat naik 1,3 persen ke posisi USD 4.176,94 per troy ons, sebagaimana dilaporkan melalui Bloomberg, Minggu (5/7).
Optimisme investor terhadap emas dipicu oleh perubahan sentimen terkait kebijakan moneter The Fed.
Probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan mendatang kini diprediksi pelaku pasar berada di bawah level 20 persen.
Angka tersebut turun drastis dibandingkan estimasi awal pekan ini yang sempat mencapai sepertiga atau sekitar 33 persen.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menilai penurunan ekspektasi suku bunga memicu aksi penutupan posisi jual atau short covering oleh para trader.
Langkah ini dilakukan karena pelaku pasar mulai mengurangi tekanan untuk melepas posisi beli aset emas mereka.
Dinamika pasar tersebut menjadi katalis utama yang mendorong reli harga emas dalam beberapa hari terakhir.
Meski demikian, terdapat keraguan mengenai keberlanjutan tren kenaikan ini dalam jangka panjang.
Melek mengingatkan bahwa tekanan inflasi global yang masih persisten akan membatasi ruang gerak kenaikan harga emas hingga tahun depan.
“Kami memperkirakan harga emas hanya akan naik hingga menyentuh level resistensi di USD 4.280 per troy ons,” ujar Melek, dikutip dari Bloomberg, Minggu (5/7).
Pernyataan tersebut sekaligus menepis spekulasi bahwa harga emas dapat melesat mencapai target USD 5.300 per troy ons dalam waktu dekat.
Faktor pendukung lain bagi penguatan emas adalah melemahnya data makroekonomi Amerika Serikat.
Laporan ketenagakerjaan AS yang dirilis Kamis (2/7) menunjukkan perlambatan tajam pada sektor perekrutan tenaga kerja selama Juni.
Fenomena tersebut memberikan sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS masih menghadapi tantangan berat meski sempat menunjukkan pemulihan dalam periode sebelumnya.
Di saat yang sama, penurunan harga energi global turut membantu meredam kekhawatiran investor terhadap pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif.
Selama ini, kebijakan suku bunga tinggi cenderung menjadi sentimen negatif bagi emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil atau yield.
Dengan kondisi ekonomi yang melambat, daya tarik emas sebagai aset lindung nilai kembali menguat di mata investor global.
























