Jakarta – Harga emas dunia kembali mengalami koreksi tajam pada perdagangan Jumat (2/10/2026) setelah sempat mencatatkan kenaikan sesaat.
Sentimen pasar global yang dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat dan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi faktor utama penekan harga logam mulia.
Data perdagangan menunjukkan harga emas spot merosot sebesar 0,8% ke level US$4.145,68 per ons troi pada pukul 11.38 waktu New York.
Kondisi ini menempatkan komoditas emas dalam tren negatif dengan akumulasi penurunan mencapai 3,3% sepanjang pekan berjalan.
Kontrak berjangka emas AS turut mengekor tren serupa dengan pelemahan sebesar 0,7% ke posisi US$4.173,50 per ons troi.
Penurunan harga emas ini terjadi di tengah rilis data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan perlambatan signifikan pada sektor non-pertanian atau nonfarm payrolls.
Laporan tersebut mencatat penambahan tenaga kerja hanya sebesar 29.000 pada September, jauh di bawah proyeksi ekonom yang mematok angka 90.000.
Bahkan, data penyerapan tenaga kerja periode Agustus turut direvisi turun dari 162.000 menjadi 133.000 posisi.
Meskipun data ekonomi terlihat melemah, para analis menilai emas belum mampu melepaskan diri dari tekanan kebijakan moneter yang ketat.
“Emas masih menghadapi bias hawkish dari The Fed,” ujar Chief Market Analyst Bybit, Han Tan.
Kondisi pasar keuangan saat ini dipengaruhi oleh tingginya imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun dan 30 tahun yang sempat menyentuh level tertinggi sejak tahun 2002 pada Kamis (1/10).
Tingginya imbal hasil obligasi membuat aset yang tidak memberikan bunga, seperti emas, menjadi kurang menarik bagi para investor global.
Di sisi lain, pelemahan data tenaga kerja sebenarnya sempat memicu spekulasi penurunan ekspektasi suku bunga Federal Reserve.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan Oktober kini terpangkas signifikan menjadi 22%.
Angka tersebut mencerminkan penurunan drastis dibandingkan awal pekan yang sempat berada di level 70%.
Namun, sentimen tersebut terbukti belum cukup kuat untuk menopang harga emas agar tetap berada di zona hijau secara berkelanjutan.
Analis Marex, Edward Meir, menilai secara teknikal harga emas masih berada di bawah tekanan yang cukup besar.
Menurutnya, harga logam mulia berpotensi kembali melemah apabila siklus kenaikan suku bunga tetap dipertahankan oleh bank sentral AS.
Dampak negatif ini tidak hanya dirasakan oleh emas, tetapi juga merembet ke komoditas logam mulia lainnya di pasar global.
Harga perak spot tercatat turun 1,1% ke level US$60,17 per ons troi.
Sementara itu, platinum mengalami pelemahan sebesar 1,9% menjadi US$1.692 per ons troi.
Palladium juga tidak luput dari tren penurunan dengan koreksi sebesar 0,4% ke posisi US$1.166,25 per ons troi.
Secara keseluruhan, sektor logam mulia kini tengah menghadapi tekanan jual yang konsisten sepanjang pekan ini.
Di pasar domestik, harga emas Antam juga terpantau mengalami penyesuaian harga dengan penurunan sebesar Rp5.000 menjadi Rp2.576.000 per gram pada hari ini.























