Harga Minyak Melonjak, Ancaman Inflasi Kembali Menghantui Ekonomi Nasional

Kholida Rahman

Harga Minyak Melonjak, Ancaman Inflasi Kembali Menghantui Ekonomi Nasional

Jakarta – Ancaman kenaikan harga minyak mentah dunia kini menjadi faktor risiko utama yang menekan stabilitas inflasi domestik di Indonesia.

Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) mencatat bahwa meskipun inflasi diproyeksikan tetap berada dalam rentang target Bank Indonesia sebesar 2,5% ± 1%, tekanan eksternal mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan.

Data Trading Economics pada Senin (20/7/2026) pukul 11.55 WIB menunjukkan harga minyak mentah WTI berada di level US$ 84,26 per barel.

Angka tersebut mencerminkan lonjakan sebesar 8,03% dalam sepekan terakhir dan kenaikan signifikan mencapai 47,02% secara tahun berjalan (year to date).

Tren serupa terjadi pada komoditas minyak mentah Brent yang menyentuh angka US$ 90,28 per barel.

Harga Brent tercatat naik 8,49% dalam sepekan dan telah melonjak 48,51% secara year to date.

Kondisi pasar energi global ini memicu kekhawatiran mengenai dampak rambatan terhadap biaya transportasi dan logistik nasional.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi, menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang berlanjut turut memperburuk skenario inflasi di dalam negeri.

“Namun demikian, lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah yang berlanjut berpotensi secara bertahap mendorong kenaikan inflasi pada sektor transportasi, logistik, biaya produksi, serta harga yang diatur pemerintah,” ujar Prasetya dalam risetnya, Senin (20/7/2026).

Di sisi lain, pemerintah dinilai masih memiliki instrumen efektif untuk meredam dampak kenaikan harga global tersebut.

Intervensi pada harga pangan bergejolak, penurunan harga LPG non-subsidi, serta pemberian dukungan bagi peternak ayam dan produsen telur menjadi kunci stabilitas harga domestik saat ini.

Prasetya menekankan bahwa ketahanan pangan tetap menjadi fokus utama dalam strategi makroekonomi pemerintah untuk menahan tekanan harga jangka pendek.

Koordinasi aktif dengan pemerintah daerah untuk memantau ketersediaan bahan pokok dianggap krusial, terutama setelah adanya fluktuasi musiman di awal tahun.

Keberhasilan Indonesia dalam menjaga inflasi pangan belakangan ini membuktikan efektivitas intervensi dari sisi pasokan, seperti perbaikan logistik dan pengawasan pasar.

Langkah-langkah tersebut dinilai sebagai pelengkap yang vital bagi kebijakan moneter yang dijalankan oleh Bank Indonesia.

Investasi berkelanjutan pada produktivitas pertanian dan infrastruktur rantai dingin disebut akan menjadi faktor penentu stabilitas harga di masa depan.

Hal ini menjadi krusial mengingat variabilitas iklim dan volatilitas harga komoditas global masih terus membayangi pasar pangan domestik.

Meski risiko meningkat, SSI tetap mempertahankan proyeksi inflasi tahun 2026 di angka 3,0%.

Namun, proyeksi tersebut memiliki catatan khusus terkait dinamika geopolitik global.

“SSI mempertahankan proyeksi inflasi tahun 2026 sebesar 3,0%, dengan catatan bahwa gangguan berkepanjangan di sekitar Selat Hormuz dapat mendorong inflasi melampaui proyeksi dasar,” jelas Prasetya.

Kondisi ekonomi nasional saat ini menuntut kehati-hatian ekstra terhadap pergerakan komoditas energi internasional.

Kombinasi antara kebijakan fiskal yang adaptif dan penguatan infrastruktur distribusi menjadi benteng pertahanan utama Indonesia dari guncangan inflasi global.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar