New York – Bursa saham Wall Street mengalami tekanan jual pada perdagangan Rabu (22/7), dipicu oleh lonjakan harga minyak global dan meningkatnya kecemasan investor terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Indeks S&P 500 mencatatkan penurunan sebesar 0,14 persen ke posisi 7.498,96.
Nasdaq Composite terkoreksi 0,57 persen menjadi 25.690,90.
Dow Jones Industrial Average berakhir melemah tipis 6,06 poin atau 0,01 persen ke level 52.218,58.
Sentimen negatif pasar dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah Brent yang melonjak sekitar 3,4 persen ke angka US$ 94,07 per barel.
Angka tersebut merupakan level tertinggi dalam kurun waktu lebih dari satu bulan terakhir.
Bahkan, harga komoditas energi tersebut sempat menyentuh level psikologis US$ 95 per barel di tengah sesi perdagangan.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turut menguat sekitar 3 persen menjadi US$ 86,83 per barel.
Lonjakan harga energi ini memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi di Amerika Serikat akan kembali menguat.
Situasi tersebut diprediksi bakal memaksa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), untuk mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga.
“Inflasi jelas masih tinggi, dan saya rasa tidak banyak yang bisa dilakukan The Fed untuk mengatasinya,” ujar Senior Portfolio Manager Globalt Investments Thomas Martin, Kamis (23/7).
Menurut Thomas Martin, ketidakpastian mengenai kebijakan suku bunga menjadi beban utama yang membayangi pergerakan pasar saat ini.
Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama kenaikan harga minyak mentah.
Pemerintah Amerika Serikat diketahui telah melancarkan serangan berturut-turut terhadap sasaran di Iran.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan bahwa Iran dinilai tidak menunjukkan keseriusan dalam proses perundingan.
“Jika mereka serius, kami juga serius. Jika tidak, kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi kepentingan kami dan kepentingan sekutu kami,” tegas Marco Rubio.
Pemerintah Amerika Serikat juga menegaskan komitmen militer untuk terus mengamankan jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.
Dampaknya, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed melonjak tajam.
Data kontrak berjangka suku bunga menunjukkan peluang kenaikan suku bunga bulan ini mencapai hampir 34 persen.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan posisi 10 persen pada pekan sebelumnya.
Di sisi lain, investor kini mengalihkan fokus pada laporan kinerja keuangan perusahaan-perusahaan besar untuk kuartal kedua.
Beberapa emiten yang dinanti laporannya meliputi ServiceNow, IBM, Tesla, Texas Instruments, dan Alphabet.
Para pelaku pasar memantau ketat pertumbuhan bisnis kecerdasan buatan (AI) serta permintaan layanan komputasi awan.
Analisis mendalam akan dilakukan terhadap anggaran teknologi perusahaan serta prospek bisnis di paruh kedua tahun ini.
Investor ingin memastikan apakah valuasi saham teknologi masih mampu bertahan di tengah tingginya permintaan infrastruktur AI.
Thomas Martin menambahkan bahwa perhatian pasar akan tertuju pada kinerja penyedia infrastruktur komputasi awan berskala besar atau hyperscaler.
Sektor teknologi menunjukkan dinamika beragam di tengah sentimen pasar yang kurang kondusif.
Saham Super Micro Computer melonjak hampir 20 persen setelah perusahaan memproyeksikan margin laba di atas ekspektasi analis.
Perseroan juga melaporkan perolehan pesanan baru senilai lebih dari US$ 60 miliar pada periode tersebut.
Sementara itu, saham AT&T menguat 3,5 persen setelah membukukan laba kuartal kedua yang melampaui estimasi pasar.
























