IHSG Berbalik Melemah, Saham Bank Jumbo BBCA hingga BBNI Loyo

IHSG Berbalik Melemah, Saham Bank Jumbo BBCA hingga BBNI Loyo

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan di penghujung sesi perdagangan Kamis (23/7), ditutup melemah 0,3 persen ke posisi 6.315.

Pergerakan indeks sepanjang hari ini menunjukkan volatilitas yang cukup tajam.

Sempat dibuka dengan optimisme tinggi, IHSG sempat mencatatkan lonjakan sebesar 1,51 persen menuju level 6.430 pada sesi pertama.

Bahkan, indeks sempat menyentuh titik tertinggi harian di angka 6.454 sebagai respons atas sentimen positif terhadap prospek ekonomi domestik yang dinilai masih solid.

Namun, momentum penguatan tersebut gagal dipertahankan hingga penutupan pasar.

Analis Phintraco Sekuritas dalam risetnya pada Kamis (23/7) menyoroti bahwa secara teknikal, ruang gerak kenaikan indeks mulai menemui batasan.

Indikator Stochastic RSI telah membentuk death cross di area overbought, sementara histogram moving average convergence divergence (MACD) mulai menunjukkan penyempitan di zona positif.

“Sehingga diperkirakan jika IHSG breakdown dari level MA5 di sekitar 6.279, maka berpotensi uji level support berikutnya di 6.200-6.250,” tulis Phintraco Sekuritas.

Sentimen eksternal turut membayangi psikologi investor di pasar modal.

Kenaikan harga minyak mentah dunia, baik jenis WTI maupun Brent, yang kini bertengger di atas level US$ 89 dan US$ 97 per barel, memicu kewaspadaan pelaku pasar.

Lonjakan harga komoditas tersebut dipicu oleh meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kini telah berlangsung selama enam pekan terakhir.

Kondisi ini mendorong investor cenderung memilih strategi perdagangan jangka pendek.

Tekanan jual yang cukup masif terjadi pada sektor keuangan dan industri, yang menjadi pemberat utama indeks hari ini.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat anjlok sebesar 3,46 persen ke level 6.275.

Demikian pula dengan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang melemah 0,99 persen ke Rp 2.990, serta PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang terkoreksi 0,28 persen ke Rp 3.600.

Di sektor industri, saham PT Astra International Tbk (ASII) melambat 2,91 persen ke Rp 5.000, sementara PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) merosot 6,09 persen ke Rp 108.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah di pasar spot juga menunjukkan pelemahan sebesar 0,11 persen ke level Rp 17.936 per dolar AS.

Meskipun indeks secara umum ditutup di zona merah, fenomena berbeda terjadi pada kelompok saham LQ45 yang justru menguat 2,24 persen.

Sektor properti menjadi penopang utama dengan pertumbuhan sebesar 3,13 persen secara sektoral.

Beberapa emiten properti yang mencatatkan kenaikan signifikan meliputi PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dengan kenaikan 1,71 persen, serta PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) yang tumbuh 1,81 persen.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat volume transaksi harian mencapai 63,15 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 23,85 triliun dari 3,18 juta kali frekuensi perdagangan.

Adapun kapitalisasi pasar bursa hari ini ditutup pada angka Rp 11.085 triliun.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar