Investor Asing Lepas Saham, Begini Proyeksi Arah IHSG Pasca-Konflik AS-Iran

persen

Jakarta – Pasar keuangan Indonesia pada pertengahan tahun 2026 berada dalam fase krusial akibat tekanan sentimen global serta lesunya dinamika domestik. Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencatatkan penguatan sebesar 4,12 persen ke level 6.254,96 pada perdagangan Senin (15/6/2026), kinerja indeks secara akumulatif sejak awal tahun (year to date) masih terkoreksi dalam sebesar 27,66 persen.

Kondisi pasar saham domestik saat ini dipengaruhi oleh dua kekuatan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah pasca rencana perjanjian pembukaan Selat Hormuz antara Amerika Serikat dan Iran telah memperbaiki selera risiko (risk appetite) global. Hal ini tecermin dari penguatan indeks MSCI Emerging Markets yang menunjukkan kembalinya minat investor asing terhadap aset berisiko di negara berkembang.

Namun, di sisi domestik, investor asing cenderung bersikap defensif. Direktur PT Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang, menyebutkan bahwa Indonesia menghadapi persoalan unik yang membuat tahun 2026 menjadi salah satu periode net sell asing terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Stabilitas nilai tukar rupiah, yang sempat menyentuh level di atas Rp 18.000 per dolar AS sebelum akhirnya berada di posisi Rp 17.725 pada Selasa (16/6/2026), menjadi perhatian utama. Tekanan pada mata uang ini memaksa Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan ke level 5,5 persen pekan lalu.

Ketidakpastian juga menyelimuti pasar menjelang potensi peninjauan peringkat utang Indonesia oleh S&P pada 18 Juni 2026. Analis menilai, meskipun probabilitas penurunan status menjadi non-investment grade tergolong rendah, risiko revisi outlook atau peringatan terkait disiplin fiskal dan tata kelola tetap menjadi faktor penekan bagi arus modal asing.

Di tengah volatilitas tersebut, pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat, berpendapat bahwa penurunan IHSG saat ini lebih didorong oleh sentimen pasar ketimbang memburuknya fundamental ekonomi. Ia mencatat bahwa kinerja emiten di Tanah Air secara makro masih menunjukkan kualitas yang baik. Penurunan harga saham, khususnya pada kelompok saham konglomerasi, dipicu oleh aksi jual investor asing terkait perubahan komposisi portofolio MSCI, bukan karena krisis ekonomi.

Secara valuasi, pasar saham Indonesia dinilai telah berada di titik yang menarik untuk investasi jangka panjang. Dengan rasio forward price to earning (PER) di kisaran 9-11 kali dan price to book value (PBV) di rentang 1,3-1,5 kali, harga saham saat ini dianggap jauh di bawah rata-rata historisnya.

Para ahli menyarankan investor untuk tetap tenang dan menghindari strategi all-in. Pendekatan dollar cost averaging (DCA) dengan fokus pada emiten berkualitas tinggi di sektor perbankan, konsumer defensif, dan telekomunikasi dinilai sebagai langkah yang paling rasional. Saham-saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ICBP, dan MYOR menjadi pilihan yang patut dicermati di tengah situasi pasar yang masih menantang. Sementara itu, sektor komoditas seperti nikel tetap mendapatkan atensi bagi investor yang mencari pertumbuhan di tengah pemulihan ekonomi global.

Rekomendasi