Kementerian Koperasi Dorong Koperasi Bangun Pabrik Pengolahan Sawit Mandiri

Pemerintah integrasikan koperasi ke industri hilir sawit, dorong kemandirian petani lewat kemitraan dengan PT Agrinas Palma Nusantara, tingkatkan kesejahteraan dan tata niaga sawit lebih adil.

persen

koperasi-masuk-bisnis-sawit:-bakal-bangun-pabrik-cpo-sendiri
Koperasi Masuk Bisnis Sawit: Bakal Bangun Pabrik CPO Sendiri

Jakarta – Pemerintah mulai mengintegrasikan koperasi ke dalam rantai industri hilir kelapa sawit untuk memperkuat kedaulatan ekonomi petani.

Langkah strategis ini diwujudkan melalui kemitraan antara Kementerian Koperasi dengan PT Agrinas Palma Nusantara (Persero).

Koperasi nantinya tidak lagi sekadar menjadi pengelola kebun, melainkan akan mengoperasikan pabrik pengolahan crude palm oil (CPO) secara mandiri.

Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto guna memperbaiki tata niaga sawit.

“Sebuah ironi jika masyarakat petani punya sawit, tapi mereka harus antre minyak goreng. Koperasi adalah instrumen untuk menjadikan tata niaga sawit lebih adil. Kita akan dampingi agar mereka profesional dan mandiri,” ujar Ferry dalam keterangan resminya, Jumat (3/7).

Dalam model bisnis ini, PT Agrinas Palma Nusantara bertindak sebagai perusahaan inti, sementara koperasi berperan sebagai plasma yang mengelola minimal 20 persen lahan produktif.

Sebagai langkah konkret, sebuah pabrik CPO milik koperasi di Musi Banyuasin dijadwalkan akan diresmikan dalam waktu dekat.

Ferry optimistis bahwa keterlibatan koperasi dalam proses produksi hingga produk turunan, seperti minyak makan merah, akan meningkatkan kesejahteraan petani secara signifikan.

Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara, Muhammad Abdul Ghani, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan lahan seluas 850 ribu hektare yang akan terus dikembangkan hingga 1,25 juta hektare.

“Dari total lahan tersebut, sedikitnya 250 ribu hektare akan dialokasikan sebagai kebun plasma yang dikelola sekitar 250 koperasi,” jelas Abdul Ghani.

Selain itu, perusahaan juga tengah mengidentifikasi 120 ribu hektare lahan sawit rakyat untuk diwadahi ke dalam kelembagaan koperasi agar memiliki ikatan formal yang jelas.

Kerja sama ini juga meluas ke sektor ketahanan pangan dan energi melalui pengembangan komoditas kedelai, jagung, hingga singkong untuk bahan baku etanol.

“Artinya, dari seluruh aspek bisnis Agrinas, kita akan bermitra dengan koperasi. Di Sumatra Utara sendiri, tahun ini kami akan mulai melakukan piloting penanaman 1.500 hektar bersama koperasi,” pungkasnya.

Rekomendasi