Jakarta – PT Kimia Farma Tbk (KAEF) saat ini tengah melakukan efisiensi besar-besaran melalui rasionalisasi portofolio produk. Langkah ini diambil di tengah wacana restrukturisasi BUMN yang digagas oleh Danantara terkait rencana pemisahan (deholdingisasi) Kimia Farma dari induk usaha PT Bio Farma (Persero).
Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam, mengungkapkan bahwa perseroan telah memangkas 181 produk sepanjang tahun 2025. Kebijakan ini membuat jumlah produk yang beredar di pasar menyusut dari 675 menjadi 494 produk.
“Kimia Farma melakukan rasionalisasi atau penghapusan produk yang tidak kita teruskan produksinya sebesar 181 produk, sehingga jumlah produk eksisting pada tahun 2025 turun dari 675 menjadi 494,” ujar Djagad dalam acara Public Expose di kantor Bio Farma Group, Rabu (3/6).
Terkait isu deholdingisasi, Djagad menegaskan bahwa pihaknya memposisikan diri sebagai objek yang patuh terhadap arahan pemegang saham. Ia mengaku belum dapat memastikan jadwal pelaksanaan pemisahan tersebut karena keputusan sepenuhnya berada di tangan Danantara dan Bio Farma.
“Kami menunggu dari Bio Farma, karena kami sebagai objek di sini. Bukan kami berinisiatif, tapi kami ada sebagai objek, di mana teman-teman dari Bio Farma lah yang akan menentukan,” jelasnya.
Meski rencana pemisahan masih menunggu instruksi lebih lanjut, Djagad memastikan bahwa proses perampingan bisnis atau streamlining di internal perusahaan tetap berjalan. Langkah ini sejalan dengan visi Danantara yang menargetkan pengurangan jumlah BUMN dari sekitar 1.000 perusahaan menjadi 250 entitas.
“Pelaksanaan deholdingisasi, kita menunggu saja, sesuai dengan arah Bio Farma. Tapi kalau streamlining, pengurangan atau mengurangi jumlah anak usaha, itu kita sedang berproses,” pungkasnya.






















