Jakarta – Kinerja saham emiten pertambangan di bawah naungan holding industri pertambangan MIND ID menunjukkan performa yang bervariasi sepanjang semester pertama tahun 2026. Meski fundamental perusahaan dinilai masih solid, gejolak pasar komoditas global menyebabkan divergensi harga saham yang cukup tajam di antara keempat emiten utama tersebut.
Data perdagangan hingga Rabu (24/6) menunjukkan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Timah Tbk (TINS) berhasil mencatatkan pertumbuhan positif. Harga saham PTBA tercatat menguat 4,76 persen secara year to date (ytd) ke level Rp 2.420 per saham. Sementara itu, PT Timah Tbk (TINS) mencatatkan lonjakan lebih signifikan sebesar 12,22 persen ytd, membawa harga sahamnya ke level Rp 3.490 per saham.
Tren berbeda dialami oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Saham ANTM mengalami tekanan dengan koreksi sebesar 12,70 persen ytd ke level Rp 2.750 per saham. Senada, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan penurunan sebesar 11,30 persen ytd, sehingga harga sahamnya berada di level Rp 4.590 per saham.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa penguatan PTBA didorong oleh harga batubara yang bertahan di level tinggi serta sentimen positif dari rencana penyesuaian harga patokan Domestic Market Obligation (DMO). Mengingat mayoritas penjualan PTBA terserap oleh pasar domestik, kebijakan ini memberikan perlindungan margin yang lebih baik. Di sisi lain, kenaikan saham TINS dipicu oleh pemulihan harga timah dunia serta kelancaran relaksasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di sektor pertambangan timah.
Sebaliknya, tekanan pada saham ANTM dinilai oleh Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, sebagai dampak normalisasi harga emas setelah sempat menguat secara agresif. Faktor teknikal, termasuk esklusi dari indeks global seperti MSCI Small Cap, turut memberikan beban jangka pendek pada saham tersebut. Untuk INCO, penurunan harga terjadi karena harga nikel belum kembali ke level supercycle, ditambah dengan sikap investor yang cenderung menunggu realisasi konkret dari proyek ekspansi perusahaan terhadap kinerja laba.
Secara makro, prospek emiten MIND ID tetap menarik berkat agenda hilirisasi nasional dan potensi stabilisasi suku bunga global yang dapat memicu arus modal masuk. Namun, para analis menekankan bahwa investor tidak lagi bisa memandang saham tambang sebagai satu kesatuan tema investasi. Strategi selektif menjadi kunci mengingat adanya tantangan berupa perlambatan ekonomi Tiongkok dan ketidakpastian biaya belanja modal (capex) untuk proyek hilirisasi.
Wafi memproyeksikan PTBA sebagai emiten paling unggul dengan target harga Rp 3.200 per saham, didukung oleh kebijakan DMO dan yield dividen yang menarik. Sementara TINS menjadi pilihan kedua selama harga timah tetap berada di atas level US$ 30.000 per ton. Untuk ANTM, stabilisasi harga emas menjadi syarat utama pemulihan, sedangkan INCO disarankan untuk dicermati kembali hingga masalah kelebihan pasokan nikel teratasi. Di sisi lain, Nafan merekomendasikan strategi akumulasi beli untuk saham PTBA dan ANTM dengan target harga masing-masing di level Rp 2.820 dan Rp 3.700 per saham.























