Jakarta – PT United Tractors Tbk (UNTR) mencatatkan perlambatan kinerja operasional yang signifikan sepanjang periode Januari hingga Mei 2026.
Data laporan bulanan perusahaan menunjukkan penjualan alat berat merek Komatsu merosot 28,05% secara tahunan (year on year) menjadi 1.690 unit.
Sektor pertambangan masih mendominasi pasar alat berat perseroan dengan porsi mencapai 43%.
Penurunan kinerja juga terjadi pada lini bisnis kontraktor pertambangan yang dijalankan oleh PT Pamapersada Nusantara.
Realisasi pengupasan lapisan tanah atau overburden removal menyusut 8,43% menjadi 398,6 juta bank cubic meter (bcm).
Produksi batubara untuk pelanggan perusahaan tercatat turun 0,72% menjadi 55,2 juta ton.
Sementara itu, penjualan batubara melalui PT Tuah Turangga Agung terkoreksi sebesar 5,63% menjadi 6,20 juta ton.
Sektor mineral non-batubara turut mengalami tekanan dengan penurunan penjualan emas sebesar 87% menjadi 13.000 ounces.
Penjualan bijih nikel melalui Stargate juga mencatatkan angka negatif sebesar 10,24% atau menjadi 797.000 wet metric ton.
Menanggapi kondisi tersebut, manajemen UNTR telah memangkas panduan operasional pada hampir seluruh segmen usaha.
Target penjualan batubara Tuah Turangga Agung dipangkas sekitar 35% menjadi 7,5 juta ton akibat kendala persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Perusahaan juga melakukan efisiensi belanja modal (capital expenditure) sebesar 27% menjadi US$ 650 juta, dari target awal US$ 800 juta.
Pemangkasan belanja modal tersebut dipicu oleh pengurangan alokasi dana di Pamapersada Nusantara hingga 50%.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pelemahan kinerja ini dipicu oleh koreksi harga batubara global.
“Penurunan capital expenditure dari kontraktor tambang memicu penundaan pembaruan atau pembelian unit alat berat baru,” ujarnya, Kamis (23/7/2026).
Faktor cuaca dengan curah hujan tinggi di awal tahun turut menghambat aktivitas overburden removal.
Namun, Nafan memandang penurunan penjualan emas bersifat temporer akibat pembatasan operasional di Tambang Emas Martabe untuk perizinan teknis dan perawatan fasilitas.
Peluang pemulihan pada semester II-2026 dinilai masih terbuka melalui revisi RKAB yang dapat memicu peningkatan aktivitas produksi.
“Secara otomatis ini akan meningkatkan demand overburden removal bagi Pamapersada Nusantara dan kebutuhan spareparts atau servis alat berat,” kata dia.
Nafan menyarankan agar UNTR mempercepat diversifikasi ke sektor non-batubara dan memperkuat layanan purna jual.
Digitalisasi peralatan pertambangan juga dianggap krusial untuk meningkatkan productivity rate dan menekan downtime unit.
Di sisi lain, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, menyoroti tantangan regulasi pengetatan pasokan hulu pada 2026.
Pemerintah membatasi produksi batubara di angka 600 juta ton dan nikel sekitar 260 juta ton.
“Situasi ini kemungkinan akan menurunkan penjualan alat berat Komatsu dan menurunkan volume kontrak pertambangan di periode mendatang,” tulisnya dalam riset tertanggal 5 Juni 2026.
Meski demikian, Adrian tetap memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp 29.100 per saham.





















