Konflik Timur Tengah Memicu Harga Minyak Dunia Terus Meroket

persen

harga-minyak-melesat-3%-jadi-us$115-imbas-perang-meluas-ke-laut-merah
Harga Minyak Melesat 3% Jadi US$115 Imbas Perang Meluas ke Laut Merah

Jakarta – Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus US$115 per barel pada Senin (30/3). Konflik yang meluas di Timur Tengah, melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel, menjadi pemicu utama kenaikan ini.

Mengutip data Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$3,09 atau 2,74 persen, mencapai US$115,66 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga mengalami penguatan sebesar US$2,92 atau 2,93 persen, berada di level US$102,56 per barel. Sebelumnya, WTI telah melonjak 5,5 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.

Secara bulanan, harga Brent mencatat lonjakan hingga 59 persen sepanjang bulan ini. Ini menjadi kenaikan bulanan tertinggi dalam sejarah, bahkan melampaui lonjakan yang terjadi saat Perang Teluk pada tahun 1990.

Kenaikan harga minyak ini dipicu oleh perang antara Iran melawan agresi AS dan Israel. Konflik ini menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur penting bagi lalu lintas minyak dunia.

Konflik yang dimulai pada 28 Februari lalu, dengan serangan AS dan Israel ke Iran, kini meluas ke kawasan lain. Kelompok Houthi di Yaman, yang bersekutu dengan Iran, melancarkan serangan pertama ke Israel pada akhir pekan. Eskalasi konflik ini meluas hingga ke wilayah Laut Merah.

Analis JP Morgan, Natasha Kaneva, menyatakan bahwa konflik saat ini tidak lagi terpusat di Teluk Persia dan Selat Hormuz. Konflik telah meluas ke Laut Merah dan Bab el-Mandeb, yang merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting bagi distribusi minyak mentah dan produk olahan dunia.

Data dari perusahaan analitik Kpler menunjukkan bahwa ekspor minyak Arab Saudi yang dialihkan dari Selat Hormuz ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah mencapai 4,658 juta barel per hari pada pekan lalu.

Jika jalur tersebut terganggu, distribusi minyak Saudi berpotensi dialihkan melalui pipa Suez-Mediterania (SUMED) menuju Laut Mediterania.

Eskalasi konflik juga menyebabkan kerusakan pada terminal Salalah di Oman, meskipun upaya gencatan senjata tengah diupayakan. Iran menyatakan siap merespons jika terjadi serangan darat dari AS, sembari tetap membuka peluang negosiasi.

Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengatakan bahwa pihaknya telah membahas berbagai langkah untuk mengakhiri konflik secara permanen. Salah satu langkah yang dibahas adalah kemungkinan perundingan antara AS dan Iran di Islamabad.

Rekomendasi