Jakarta – PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang signifikan sebesar 29,90 persen secara tahunan atau year on year (yoy) hingga akhir semester I-2026.
Perusahaan pertambangan nikel tersebut sukses membukukan laba bersih senilai Rp 403,03 miliar, meningkat tajam dari capaian periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 310,27 miliar.
Kenaikan laba bersih ini turut mendongkrak perolehan laba per saham perusahaan yang melesat 28,09 persen menjadi Rp 72 per lembar saham.
Pada periode sebelumnya, laba per saham DKFT tercatat berada di level Rp 56.
Pencapaian ini didukung oleh total penjualan perusahaan yang mencapai Rp 1,01 triliun hingga akhir Juni 2026.
Angka penjualan tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 5,91 persen dibandingkan realisasi pada semester I-2025 yang tercatat sebesar Rp 950,65 miliar.
Strategi efisiensi biaya yang diterapkan perusahaan terbukti berhasil menjaga profitabilitas di tengah fluktuasi pasar komoditas global.
Beban pokok penjualan DKFT tercatat mengalami penurunan sebesar 4,57 persen yoy menjadi Rp 444,49 miliar pada semester I-2026.
Sebagai perbandingan, beban pokok penjualan pada semester I-2025 berada di angka Rp 465,79 miliar.
Kondisi tersebut berdampak positif pada EBITDA perusahaan yang tumbuh 13,24 persen yoy menjadi Rp 545,14 miliar.
Angka EBITDA ini meningkat dari capaian tahun sebelumnya yang berada pada posisi Rp 481,39 miliar.
Kendati mencatat kinerja keuangan yang impresif, perusahaan mengalami penurunan volume penjualan bijih nikel selama semester pertama tahun ini.
Volume penjualan bijih nikel DKFT menyusut 34,29 persen yoy, dari 1,84 juta ton pada semester I-2025 menjadi 1,21 juta ton pada semester I-2026.
Direktur Central Omega Resources, Feni Silviani Budiman, menegaskan bahwa pertumbuhan kinerja ini merupakan hasil dari disiplin operasional yang ketat.
“Meskipun volume penjualan terkoreksi, optimasi margin dan fleksibilitas pemasaran memungkinkan kami mempertahankan EBITDA sebesar Rp 545 miliar serta meningkatkan laba per saham sebesar 28% menjadi Rp 72,” ujarnya sebagaimana dikutip dari keterbukaan informasi, Selasa (28/7/2026).
Feni menambahkan bahwa perusahaan akan terus berfokus pada langkah-langkah efisiensi berkelanjutan di masa mendatang.
Manajemen DKFT menargetkan untuk terus memaksimalkan nilai tambah dari setiap komoditas yang diproduksi.
Langkah strategis ini diambil guna memastikan hasil yang optimal bagi seluruh pemegang saham perusahaan di tengah dinamika industri nikel.
Hingga saat ini, perseroan tetap menjaga fleksibilitas pemasaran sebagai salah satu instrumen utama dalam menghadapi tantangan penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Kinerja positif yang dibukukan DKFT pada semester I-2026 ini memberikan sinyal optimisme bagi para investor di sektor pertambangan nikel.
Perusahaan berkomitmen untuk tetap menjaga stabilitas operasional guna mempertahankan tren pertumbuhan laba hingga akhir tahun buku 2026.





















