Jakarta – PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menghadapi tantangan efisiensi yang signifikan di tengah lonjakan volume penjualan pada semester pertama tahun 2026.
Meskipun perusahaan mencatatkan pertumbuhan penjualan yang solid, tekanan pada margin laba kotor akibat kenaikan biaya bahan baku menjadi penghambat utama dalam optimalisasi laba bersih.
Sepanjang semester I 2026, perseroan berhasil membukukan laba inti sebesar Rp 2,1 triliun, yang mencerminkan kenaikan 10,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Realisasi penjualan bersih perusahaan mencapai Rp 16,9 triliun, tumbuh 7,1% secara tahunan.
Kinerja keuangan tersebut dinilai masih berada dalam koridor ekspektasi pelaku pasar dan proyeksi analis.
“Laba inti semester I 2026 maupun penjualan bersih berada sejalan dengan estimasi kami dan konsensus,” ungkap Analis Indo Premier Sekuritas, Andrianto Saputra dalam riset tertanggal 28 Juli 2026.
Andrianto menambahkan bahwa pertumbuhan laba pada kuartal II sebenarnya tertahan oleh tekanan margin laba kotor, meskipun secara operasional pertumbuhan penjualan menunjukkan tren yang kuat.
Data menunjukkan bahwa pada kuartal II 2026, penjualan bersih Unilever melonjak 11,6% menjadi Rp 8,5 triliun.
Pencapaian tersebut ditopang oleh kenaikan volume penjualan sebesar 12,7%.
Di sisi lain, perusahaan harus menurunkan harga jual rata-rata sebesar 1,7% untuk menjaga daya saing produk di pasar.
Peningkatan volume penjualan ini juga tidak terlepas dari pergeseran pola pengisian stok oleh distributor yang terjadi pada April 2026.
Fenomena ini berbeda dengan tahun sebelumnya, di mana aktivitas pengisian stok mayoritas terjadi pada Maret.
Kendati penjualan tumbuh dua digit, margin laba kotor atau gross profit margin (GPM) justru mengalami penyusutan menjadi 45% pada kuartal II 2026.
Angka tersebut turun 316 basis poin dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
Penurunan margin ini dipicu oleh lonjakan harga komoditas minyak sebagai bahan baku utama yang naik sekitar 45% secara tahunan.
Situasi diperberat dengan kenaikan rasio beban operasional terhadap penjualan yang mencapai 33,9%.
Meskipun belanja iklan dan promosi ditekan, biaya distribusi tetap membengkak akibat tingginya harga bahan bakar.
Dampaknya, margin laba operasional (EBIT) perseroan tergerus menjadi 11,1%.
Akibat akumulasi tekanan biaya tersebut, laba bersih Unilever pada kuartal II 2026 hanya tumbuh tipis sebesar 4,8% menjadi Rp 829 miliar.
Margin laba bersih pun tercatat berada di level 9,8%.
Ke depan, perusahaan mulai mengambil langkah strategis dengan menerapkan penyesuaian harga secara selektif sebesar 3% hingga 5% pada sejumlah produk sejak Juni 2026.
“Manajemen memperkirakan kenaikan harga tersebut akan membantu pemulihan margin laba kotor pada semester II 2026,” papar Andrianto dalam catatannya.
Namun, perusahaan masih dihadapkan pada beban biaya transformasi yang cukup besar pada kuartal III 2026, yang diproyeksikan mencapai Rp 180 miliar atau setara 2% dari total penjualan.
Melihat kondisi tersebut, Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi hold untuk saham UNVR dengan target harga Rp 2.100 per saham.
Valuasi tersebut didasarkan pada asumsi 20 kali price to earnings (PE) tahun 2026.
Faktor risiko utama yang masih membayangi prospek Unilever adalah volatilitas harga bahan baku serta potensi pelemahan daya beli konsumen yang dapat membatasi ruang pertumbuhan penjualan di masa depan.



















