Jakarta – Pemerintah pusat resmi menginisiasi pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Akademisi sebagai langkah strategis mempercepat realisasi berbagai program prioritas nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Kebijakan ini dirancang untuk menyatukan kekuatan intelektual dari perguruan tinggi dengan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam satu wadah kolaborasi terpadu.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyatakan bahwa pembentukan tim khusus ini bertujuan agar kontribusi riset menjadi lebih fokus dan tidak tersebar luas.
“Intinya adalah untuk percepatan. Jadi beberapa orang guru besar, peneliti, BRIN, dan perguruan tinggi nantinya akan bekerjasama dalam satu topik, supaya tidak terlalu luas,” ujar Brian dikutip dari keterangan resmi di Istana Merdeka, Selasa (7/7/2026).
Satgas ini akan bekerja berdasarkan topik-topik spesifik yang telah ditentukan oleh pemerintah.
Pendekatan ini diharapkan mampu mengintegrasikan riset dasar hingga teknologi tepat guna secara lebih efektif.
Kepala BRIN, Arif Satria, menambahkan bahwa koordinasi lintas sektor antara kementeriannya dengan Kemendiktisaintek telah berjalan intensif.
Salah satu target utama dalam waktu dekat adalah penyusunan Peta Jalan Riset Indonesia 2026–2045.
Dokumen tersebut dijadwalkan meluncur pada Agustus mendatang bertepatan dengan peringatan Hari Teknologi nasional.
Peta jalan tersebut nantinya akan menjadi acuan utama bagi pemerintah dalam menetapkan tema riset yang berskala prioritas nasional.
Setelah arah riset ditetapkan, kelompok kerja atau Satgas akan langsung dibentuk untuk mengawal proyek strategis di bidangnya masing-masing.
Arif menegaskan bahwa pembentukan Satgas tidak akan memangkas fungsi riset utama BRIN.
Sebaliknya, model ini justru bertujuan untuk memperluas kapasitas penelitian nasional melalui tambahan talenta dari berbagai universitas.
Sinergi ini juga dirancang untuk meminimalisir risiko tumpang tindih penelitian antarlembaga yang sering terjadi di masa lalu.
“BRIN juga selalu menggandeng perguruan tinggi untuk riset bersama. Ini harus disinergikan supaya tidak ada overlap riset,” kata Arif dikutip dari pernyataan di Istana Merdeka, Selasa (7/7/2026).
Pemerintah telah memetakan sejumlah sektor krusial yang akan menjadi fokus utama Satgas Akademisi.
Bidang tersebut meliputi ketahanan pangan, energi, pengelolaan sumber daya air, kesehatan, hingga pembangunan perumahan nasional.
Selain itu, sektor teknologi masa depan seperti pengembangan kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, dan teknologi genomik juga masuk dalam prioritas riset.
Teknologi nuklir untuk kebutuhan energi dan industri antariksa juga menjadi bagian dari agenda yang akan digarap oleh tim kolaboratif tersebut.
Arif memberikan contoh konkret, seperti pengembangan satelit yang nantinya akan melibatkan peneliti kampus dengan spesialisasi antariksa.
“Kami juga akan gandeng orang-orang kampus, siapa yang punya perhatian di situ, gabung bersama-sama. Itu yang dimaksud dengan Satgas itu,” jelas Arif dikutip dari keterangan pers di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Dari sisi pembiayaan, pemerintah menyiapkan skema pendanaan bersama yang bersumber dari Kemendiktisaintek dan BRIN.
Proposal pendanaan untuk proyek riset lintas institusi tersebut saat ini telah dalam tahap persiapan matang.
Meskipun struktur organisasi detail masih dalam pembahasan, pemerintah memastikan tim pelaksana akan dibentuk secara kolaboratif.
Penggunaan fasilitas serta sumber daya manusia dari pihak kampus dan BRIN akan dimanfaatkan secara maksimal dalam setiap proyek Satgas.
Pemerintah menargetkan riset yang dihasilkan tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga praktis untuk menjawab kebutuhan mendesak masyarakat.
Implementasi teknologi tepat guna menjadi tuntutan utama agar program strategis nasional dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh publik.
Di sisi lain, penguasaan teknologi maju tetap menjadi prioritas untuk menjaga kedaulatan industri nasional.
Seluruh rangkaian riset ini diharapkan mampu mempercepat transformasi ekonomi dan teknologi Indonesia dalam dua dekade ke depan.























