Jakarta – Kinerja margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) sejumlah bank besar di Indonesia mengalami tekanan sepanjang semester pertama tahun 2026.
Penurunan margin ini dipicu oleh ketatnya kompetisi dalam penghimpunan dana murah serta kenaikan biaya dana atau cost of fund yang lebih cepat dibandingkan penyesuaian suku bunga kredit.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat penurunan NIM secara kuartalan sebesar 12 basis poin (bps), dari 4,46% pada kuartal pertama menjadi 4,34% pada kuartal kedua 2026.
Tren serupa dialami PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang NIM-nya terkoreksi 1 bps menjadi 5,32% pada kuartal kedua 2026.
Di sisi lain, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) berhasil menjaga NIM tetap stagnan di angka 3,55% pada dua kuartal awal tahun ini.
Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatatkan NIM sebesar 6,53% pada kuartal pertama 2026, namun belum mempublikasikan data kinerja keuangan untuk kuartal kedua.
Tekanan terhadap profitabilitas perbankan terlihat lebih signifikan jika dihitung secara tahunan (year-on-year).
NIM BMRI tergerus 27 bps dibandingkan periode Juni 2025 yang mencapai 4,61%.
Koreksi lebih dalam dialami BBNI dengan penurunan 28 bps dari 3,83% menjadi 3,55%, serta BBCA yang merosot 46 bps dari 5,78% ke level 5,32%.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan konsekuensi dari dinamika spread bunga yang tidak seimbang.
“Kondisi ini yang membuat NIM tertekan,” ujar Nafan dikutip dari laporan analisis pasar, Senin (24/8/2026).
Menurutnya, suku bunga kredit cenderung turun lebih dulu saat pelonggaran kebijakan moneter dilakukan pada 2025 lalu.
Namun, ketika likuiditas di pasar mulai mengetat, biaya deposito justru melonjak naik dengan kecepatan yang melampaui penyesuaian bunga kredit.
Data Bank Indonesia (BI) mengonfirmasi penyempitan selisih bunga tersebut pada Juni 2026.
Rata-rata suku bunga deposito tenor satu bulan meningkat tajam menjadi 4,77% dari 4,28% pada Mei 2026.
Sebaliknya, pergerakan suku bunga kredit tidak mampu mengimbangi kenaikan biaya dana tersebut.
Hal ini menyebabkan spread antara bunga kredit dan deposito tenor satu bulan menyusut sekitar 40 bps hanya dalam kurun waktu satu bulan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mencatat penurunan NIM industri perbankan secara umum dari 4,38% pada Maret 2026 menjadi 4,34% pada Juni 2026.
Meski margin tertekan, Nafan menilai bahwa bisnis utama perbankan masih tetap menarik dan memiliki fundamental yang kuat.
Ia menekankan bahwa pertumbuhan laba empat bank besar hingga Mei 2026 masih berada di kisaran 9%, dengan pendapatan bunga bersih yang naik 7,8%.
“Saya melihat tekanan NIM ini lebih bersifat siklus dan kemungkinan sudah mendekati fase stabilisasi,” kata Nafan.
Stabilisasi tersebut diharapkan terjadi seiring dengan membaiknya kondisi likuiditas dan penurunan biaya dana di pasar.
Dari sisi investasi, koreksi valuasi yang terjadi saat ini justru dinilai menjadi momentum bagi investor untuk melakukan akumulasi saham perbankan besar.
Perkembangan ini terjadi di tengah kebijakan Bank Indonesia yang mempertahankan BI-Rate di level 5,75% sejak Juni 2026, setelah sempat menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali sepanjang tahun berjalan.





















