Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pergerakan melemah pada perdagangan tengah hari ini, Senin (24/8/2026).
Mata uang Garuda berada di posisi Rp 17.699 per dolar AS pada sesi perdagangan siang.
Posisi ini merepresentasikan pelemahan tipis sebesar 0,03% dibandingkan penutupan perdagangan akhir pekan lalu.
Sebelumnya, rupiah sempat bertengger di level Rp 17.694 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari Jumat (21/8/2026).
Dinamika pelemahan rupiah ini terjadi di tengah fluktuasi mata uang kawasan Asia yang cenderung bervariasi hingga pukul 12.00 WIB.
Sentimen pasar di Asia menunjukkan pergerakan yang tidak seragam, di mana sebagian mata uang negara tetangga mengalami tekanan, sementara sebagian lainnya justru mencatatkan penguatan terhadap the greenback.
Ringgit Malaysia tercatat menjadi mata uang dengan tingkat pelemahan terdalam di Asia pada sesi siang ini.
Data pasar menunjukkan bahwa mata uang Negeri Jiran tersebut terkoreksi sebesar 0,06%.
Tekanan serupa juga menimpa yuan China yang terpantau melemah sebesar 0,03%.
Dolar Singapura pun tidak luput dari tekanan dengan penurunan nilai sebesar 0,02%.
Sementara itu, peso Filipina mencatatkan pelemahan paling tipis di antara mata uang yang tertekan, yakni sebesar 0,01%.
Di sisi lain, pergerakan positif justru dialami oleh won Korea Selatan yang tampil sebagai pemimpin penguatan di kawasan Asia.
Won Korea Selatan dilaporkan melesat cukup signifikan dengan kenaikan mencapai 0,51%.
Tren penguatan juga menyentuh baht Thailand dan dolar Taiwan yang sama-sama terkerek naik sebesar 0,08%.
Rupee India turut menunjukkan performa positif dengan menanjak sebesar 0,04% terhadap dolar AS.
Kondisi serupa dialami oleh dolar Hong Kong dan yen Jepang yang kompak menguat tipis sebesar 0,02% pada tengah hari ini.
Variasi pergerakan mata uang ini mencerminkan dinamika ekonomi regional yang dipengaruhi oleh berbagai sentimen global.
Para pelaku pasar saat ini tengah mencermati kebijakan moneter dari bank sentral masing-masing negara.
Fluktuasi yang terjadi pada rupiah menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase konsolidasi di awal pekan ini.
Kondisi pasar keuangan domestik hari ini juga diwarnai dengan tren pelemahan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
IHSG tercatat melemah sebesar 0,69% ke level 6.480,6 pada penutupan sesi pertama perdagangan hari ini.
Beberapa saham yang masuk dalam jajaran top losers pada indeks LQ45 di antaranya adalah EXCL, SCMA, dan AMRT.
Kombinasi pelemahan di pasar valuta asing dan pasar modal menjadi perhatian utama para investor di Jakarta.
Analisis pasar menunjukkan bahwa ketidakpastian global masih menjadi faktor dominan yang menekan pergerakan aset berisiko di Indonesia.
Pelaku pasar kini menunggu arah kebijakan lebih lanjut dari otoritas moneter untuk menentukan langkah investasi berikutnya.
Hingga saat ini, belum ada intervensi signifikan yang memicu perubahan tren mendadak pada pergerakan rupiah di pasar spot.





















