Jakarta – Sektor pusat data atau data center kini menjadi magnet pertumbuhan baru bagi sejumlah emiten di pasar modal Indonesia.
Lonjakan kebutuhan komputasi mendorong perusahaan besar seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), hingga PT DCI Indonesia Tbk (DCII) untuk berlomba memperluas kapasitas infrastruktur mereka.
Lembaga riset BRI Danareksa Sekuritas dalam laporannya yang berjudul Mapping Indonesia’s Data Center Race: Early-Stage Growth with a Deep Pipeline menyatakan bahwa pasar pusat data nasional masih berada pada fase pertumbuhan awal.
Kondisi ini memberikan peluang ekspansi yang luas bagi emiten yang sudah memiliki aset operasional maupun mereka yang sedang merintis pembangunan kapasitas baru.
“Mengingat pasar masih berada pada tahap awal, kepastian pasokan daya dan skala operasi akan menjadi penentu bagi perusahaan yang akan unggul,” demikian pernyataan tim analis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya, dikutip Senin (24/8/2026).
PT DCI Indonesia Tbk (DCII) saat ini memimpin sebagai pemain pure-play dengan skala operasi terbesar, yakni 128 megawatt (MW) dari empat fasilitas yang telah beroperasi.
Perusahaan tersebut memiliki potensi pengembangan masif pada fasilitas H1 di Cibitung dan H2 di Karawang, serta rencana jangka panjang di Sky DC Park Bintan yang mampu menampung kapasitas hingga 1.000 MW.
Untuk mendukung ambisi tersebut, DCII telah mengamankan fasilitas pinjaman sebesar Rp 17 triliun dari Bank Central Asia (BCA).
Di sisi lain, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) melalui unit bisnisnya, NeutraDC, menargetkan kapasitas 300 MW pada 2030, dengan fokus pengembangan di kampus Cikarang serta fasilitas di Batam dan Singapura.
Telkom juga dikabarkan tengah memproses divestasi 70% saham NeutraDC kepada mitra strategis global dengan valuasi diperkirakan mencapai US$ 1 miliar hingga US$ 1,5 miliar.
Sementara itu, PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) mengambil langkah strategis dengan mengintegrasikan infrastruktur pusat data melalui BDx Indonesia dan pengembangan kecerdasan buatan (AI) lewat perusahaan Zankore.
Proyek AI Factory milik Zankore diproyeksikan mencapai kapasitas 1 gigawatt (GW) dalam tiga tahun ke depan, yang dinilai analis dapat memberikan nilai tambah signifikan bagi valuasi saham ISAT.
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga mulai beralih dari bisnis edge data center skala kecil menuju segmen hyperscale melalui proyek SMX01 di Jakarta yang mengadopsi teknologi liquid cooling untuk kebutuhan beban kerja AI.
Secara geografis, Jakarta masih mendominasi dengan kontribusi 55% terhadap kapasitas terpasang nasional, sementara Batam mulai berkembang sebagai hub regional berkat kedekatan akses ke Singapura.
BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa Indonesia memiliki pipeline kapasitas yang direncanakan mencapai 1.699 MW, yang menempatkan negara ini sebagai pemain kunci dalam peta persaingan pusat data di Asia Tenggara.





















