Jakarta – PT Megalestari Epack Sentosaraya Tbk (EPAC) secara resmi mengambil langkah strategis untuk melakukan restrukturisasi bisnis guna memperbaiki kinerja keuangan perusahaan.
Langkah utama yang ditempuh adalah penghentian operasional fasilitas produksi konvensional milik entitas anak, MES, yang ditargetkan rampung paling lambat pada 31 Desember 2026.
Keputusan ini diambil sebagai upaya manajemen untuk menekan beban operasional yang selama ini membebani kinerja konsolidasi perseroan.
“Penghentian yang dimaksud adalah operasional fasilitas produksi konvensional, sementara kegiatan usaha grup tetap dilanjutkan melalui bisnis digital,” ujar manajemen EPAC dalam keterangan resminya, Selasa (6/10/2026).
Fokus bisnis perseroan kini akan dialihkan sepenuhnya pada platform kemasan fleksibel digital yang dikelola oleh PT Epac Flexibles Indonesia (EFI).
Manajemen mencatat bahwa simulasi proforma menunjukkan dampak positif dari penghentian lini konvensional tersebut terhadap neraca keuangan.
Jika operasional MES dihentikan sejak awal tahun, rugi bersih konsolidasi sekitar Rp 2,8 miliar dapat berbalik menjadi laba bersih sekitar Rp 1,7 miliar.
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, perseroan juga merencanakan ekspansi fasilitas produksi digital baru di Surabaya pada 2027.
Langkah ini bertujuan untuk memperkuat jangkauan layanan setelah fasilitas yang ada saat ini di Tangerang dinilai perlu didukung oleh perluasan cakupan geografis.
Perseroan memproyeksikan target pertumbuhan penjualan tahunan berada di kisaran 15 persen hingga tahun 2028.
Berdasarkan proyeksi kinerja yang mempertimbangkan penghentian lini konvensional dan ekspansi digital, penjualan diprediksi mencapai Rp 197 miliar pada 2027.
Angka tersebut diestimasi akan terus meningkat hingga mencapai Rp 304,92 miliar pada tahun 2030 mendatang.
Seiring dengan kenaikan penjualan, laba bersih diproyeksikan melonjak dari Rp 14,179 miliar menjadi Rp 42,263 miliar pada periode yang sama.
Namun, manajemen menegaskan bahwa pencapaian target tersebut sangat bergantung pada realisasi ekspansi, dinamika permintaan pelanggan, biaya produksi, serta kondisi pendanaan.
Terkait dengan rencana pengembangan usaha, EPAC telah menjadwalkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 3 November 2026.
Agenda utama rapat tersebut adalah meminta persetujuan pemegang saham untuk aksi korporasi berupa Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD I) atau rights issue.
Perseroan berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 2 miliar saham baru untuk mendanai belanja modal, pengurangan utang bank, dan modal kerja.
Selain rights issue, perseroan juga berencana melakukan pembelian kembali saham (buyback) maksimal 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor.
Anggaran yang dialokasikan untuk aksi buyback ini mencapai Rp 20 miliar dengan periode pelaksanaan maksimal 12 bulan setelah persetujuan RUPSLB.
“Kedua aksi korporasi masih merupakan rencana,” tegas manajemen EPAC.
Proses rights issue sendiri masih memerlukan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) setelah mendapatkan lampu hijau dari para pemegang saham.




















