Jakarta – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menunjukkan tren pemulihan signifikan pada perdagangan awal pekan ini setelah sempat mengalami tekanan jual selama empat hari berturut-turut.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat saham GOTO bertahan di level Rp30 per lembar pada Selasa, 6 Oktober 2026.
Kondisi ini menyusul momentum penguatan sebesar 7,14 persen yang terjadi pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu.
Kenaikan harga tersebut dibarengi dengan lonjakan nilai transaksi harian yang mencapai Rp2,7 triliun.
Secara teknikal, pergerakan saham GOTO mulai lebih leluasa setelah otoritas bursa menghapus aturan batas bawah harga saham (floor price) dari Rp50 menjadi Rp1.
Sebelumnya, pemberlakuan aturan baru tersebut memicu antrean jual yang cukup masif di pasar reguler dan pasar tunai.
Berdasarkan catatan BEI periode 28 September hingga 2 Oktober, GOTO menjadi emiten dengan volume perdagangan tertinggi.
Total volume transaksi mencapai 110,96 miliar saham atau setara dengan 43,54 persen dari total volume perdagangan di bursa.
Nilai transaksi GOTO dalam sepekan tercatat sebesar Rp3,06 triliun, menempatkan perusahaan sebagai kontributor nilai transaksi terbesar ketiga setelah BBCA dan TLKM.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan GoTo, R.A. Koesoemohadiani, menyatakan bahwa fluktuasi harga yang terjadi lebih didorong oleh aspek teknis pasca-perubahan aturan bursa.
“Perseroan meyakini bahwa harga saham perseroan saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis yang terus menerus menguat,” ujar Koesoemohadiani dalam keterbukaan informasi di BEI, Jumat (2/10/2026).
Ia menambahkan bahwa penurunan harga sebelumnya merupakan dampak dari penyesuaian portofolio oleh para pemegang saham yang sempat tertahan.
Manajemen menekankan bahwa kinerja operasional grup justru menunjukkan tren pertumbuhan yang solid sepanjang tahun ini.
Pada kuartal II 2026, perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp252 miliar.
Pencapaian tersebut menandai keberhasilan perusahaan mencatatkan laba selama dua kuartal berturut-turut.
Pendapatan bersih perseroan tercatat menyentuh angka Rp5,7 triliun, sementara EBITDA yang disesuaikan melampaui Rp1 triliun.
Perusahaan tetap optimistis mampu mencapai target EBITDA yang disesuaikan sepanjang tahun 2026 di kisaran Rp3,2 hingga Rp3,4 triliun.
Guna memberikan nilai tambah bagi pemegang saham, perseroan tengah menyiapkan dua langkah strategis korporasi.
Pertama, rencana pembelian kembali saham (buyback) periode 2026-2027 dengan nilai maksimal Rp3,5 triliun yang telah disetujui RUPSLB pada 18 Juni lalu.
“Implementasi akan bergantung pada keputusan manajemen, dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi pasar global dan nasional terkini beserta segala dinamika yang terjadi pada saat ini,” jelas Koesoemohadiani.
Langkah kedua adalah rencana pengurangan modal melalui penarikan kembali atau penghapusan sebagian saham treasuri.
Agenda tersebut akan dimintakan persetujuan dalam RUPSLB yang dijadwalkan berlangsung pada 14 Oktober mendatang.
Saham treasuri yang dimaksud berasal dari hasil buyback periode 12 Juni 2024 hingga 11 Juni 2025 dengan total 32,18 miliar saham Seri A.























