Menakar Arah Strategis Ekspansi Gurita Bisnis Keluarga Hartono

Kholida Rahman

Menakar Arah Strategis Ekspansi Gurita Bisnis Keluarga Hartono

Jakarta – Konglomerasi raksasa Grup Djarum milik keluarga Hartono semakin memperluas jangkauan bisnisnya ke berbagai sektor, baik di dalam maupun luar negeri.

Langkah ekspansi ini memicu spekulasi mengenai arah strategis bisnis keluarga tersebut, termasuk adanya investasi senilai US$1,4 miliar atau sekitar Rp 24,9 triliun di luar negeri melalui sembilan entitas di Singapura dan London.

Namun, manajemen Djarum membantah bahwa investasi tersebut merupakan upaya untuk memindahkan pusat bisnis dari Indonesia.

Corporate Communications Manager PT Djarum, Budi Darmawan menegaskan bahwa sekitar 90% dari total investasi keluarga Hartono masih berpusat di dalam negeri.

“Memang dari awal kami bangun ini bisnisnya adalah ikut untuk bisa membangun Indonesia menjadi negara yang digdaya. Jadi (kami) ikut tumbuh bersama-sama negara ini,” ujar Budi Darmawan dikutip dari laman Katadata, Selasa (22/9/2026).

Menurut Budi Darmawan, ekspansi internasional tersebut merupakan bagian dari strategi diversifikasi bisnis yang telah direncanakan jauh sebelum adanya pergantian pemerintahan.

Ia menambahkan bahwa investasi di luar negeri, seperti pada bisnis kertas khusus di Amerika Serikat dan Austria, justru memiliki keterkaitan dengan rantai pasok industri tembakau yang mereka geluti.

Budi Darmawan juga menekankan bahwa pendanaan untuk aksi korporasi di luar negeri tersebut bersumber dari pinjaman asing, sehingga tidak mengganggu arus modal di Indonesia.

Transformasi Grup Djarum sendiri telah berlangsung selama puluhan tahun, bergeser dari bisnis rokok menjadi ekosistem yang mencakup perbankan, properti, telekomunikasi, hingga ekonomi digital.

Salah satu aset paling strategis bagi keluarga ini adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang kini dikendalikan sepenuhnya oleh Robert Budi Hartono setelah wafatnya Michael Bambang Hartono pada Maret 2026.

Di sektor digital, keluarga Hartono aktif melalui GDP Venture, yang baru saja mengambil alih PT Narasi Citra Sahwahita.

Langkah ini memperkuat posisi mereka dalam ekosistem media dan konten digital, melengkapi portofolio di sektor teknologi melalui Blibli dan infrastruktur telekomunikasi seperti TOWR serta BACH.

Co-Founder dan Direktur Alphagate Capital, Henry Wibowo menilai bahwa strategi keluarga Hartono saat ini mencerminkan transisi dari perusahaan berbasis rokok menjadi ekosistem bisnis yang terdiversifikasi secara luas.

“Yang menarik, meskipun portofolionya semakin luas dan ada ekspansi ke luar negeri, basis aset dan investasinya masih sangat dominan di Indonesia,” kata Henry Wibowo sebagaimana dikutip dari Katadata.

Henry Wibowo menambahkan bahwa bagi konglomerasi sebesar Djarum, eksposur internasional merupakan langkah logis untuk mendapatkan akses teknologi dan pasar yang lebih luas.

Di sisi lain, Analis keuangan, Nafan Aji Gusta melihat transformasi ini sebagai bentuk evolusi menuju investment holding.

Menurut Nafan Aji Gusta, model ini memungkinkan keluarga Hartono untuk mengalokasikan modal ke berbagai sektor dengan tingkat risiko dan siklus pertumbuhan yang berbeda-beda.

Tantangan utama yang dihadapi generasi ketiga, seperti Victor Rachmat Hartono, Martin Basuki Hartono, dan Armand Hartono, adalah mengelola kompleksitas aset yang semakin berlapis.

Mereka kini harus memastikan setiap akuisisi dan investasi memberikan sinergi serta imbal hasil yang berkelanjutan bagi grup.

Hingga saat ini, keluarga Hartono tetap mempertahankan komitmen investasi domestik, termasuk pengembangan sektor peternakan sapi perah untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Pola ini menegaskan bahwa Indonesia tetap menjadi pusat gravitasi utama bagi gurita bisnis keluarga Hartono di masa depan.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar