Mendag: Pasokan Minyak Goreng Melimpah, Minyakita Terbatas

persen

mendag-bantah-minyak-goreng-langka-di-pasaran:-banyak,-coba-cek
Mendag Bantah Minyak Goreng Langka di Pasaran: Banyak, Coba Cek

Jakarta – Menteri Perdagangan Budi Santoso membantah isu kelangkaan minyak goreng di pasaran, meskipun masyarakat mengeluhkan sulitnya mendapatkan Minyakita. Ia menegaskan pasokan minyak goreng secara umum masih tersedia, namun distribusi Minyakita terbatas karena merupakan bagian dari skema khusus pemerintah.

“Minyak goreng itu banyak. Coba cek ya. Saya kemarin ke ritel modern, minyak goreng banyak. Jadi enggak ada namanya minyak goreng itu langka,” ujar Budi di Jakarta International Expo, Jakarta Pusat, Kamis (16/4).

Menurut Budi, persepsi kelangkaan muncul karena masyarakat menjadikan Minyakita sebagai satu-satunya acuan. Padahal, pasar menyediakan berbagai jenis minyak goreng lain, mulai dari merek alternatif hingga produk premium.

“Jadi jangan menyampaikan kalau minyak kita enggak ada. Bilangnya, narasinya, minyak goreng enggak ada. Yang dilihat itu Minyakita. Minyakita itu kan minyak DMO, jumlahnya terbatas,” jelasnya.

Ia menambahkan, Minyakita berasal dari kewajiban pasar domestik (DMO) yang volumenya memang tidak besar karena bergantung pada pasokan ekspor. Kondisi ini menyebabkan ketersediaannya tidak selalu merata di pasar.

Untuk mengatasi hal ini, Budi telah meminta produsen untuk menghadirkan minyak goreng second brand yang setipe dengan Minyakita. Tujuannya adalah menyediakan alternatif dengan harga terjangkau guna menjaga keseimbangan pasar.

“Ada minyak second brand. Kita minta produsen membuat minyak second brand. Ini pembandingnya Minyakita. Kemudian juga ada minyak premium,” katanya.

Terkait harga, Budi mengakui adanya kenaikan terbatas yang dipicu oleh biaya produksi, terutama kemasan plastik. “Ya ada sedikit juga naik. Karena kan imbas dari, kan mereka kemasannya plastik semua. Tapi enggak ada namanya kelangkaan,” ucapnya.

Di sisi lain, keluhan mengenai Minyakita memang banyak muncul di lapangan. Sejumlah pedagang di Jakarta mengaku sudah berbulan-bulan tidak mendapatkan pasokan.

Seorang pedagang di Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan, Elan, menyatakan tidak lagi menjual Minyakita sejak tiga bulan terakhir karena stok dari pemasok kosong. Kondisi serupa terjadi di Pasar Mampang Prapatan, di mana pedagang terakhir kali menjual Minyakita pada Januari lalu.

Keterbatasan pasokan ini mendorong pedagang beralih menjual minyak goreng kemasan premium dan curah dengan harga yang lebih tinggi. Harga minyak goreng kemasan yang sebelumnya sekitar Rp20 ribu per liter kini naik menjadi Rp22 ribu hingga Rp23 ribu, sementara minyak curah naik dari Rp18 ribu menjadi…

Jakarta – Menteri Perdagangan Budi Santoso membantah isu kelangkaan minyak goreng di pasaran. Ia menegaskan bahwa pasokan minyak goreng secara umum masih melimpah, namun distribusi Minyakita mengalami keterbatasan karena merupakan bagian dari skema khusus pemerintah.

“Minyak goreng itu banyak. Coba cek ya. Saya kemarin ke ritel modern, minyak goreng banyak. Jadi tidak ada namanya minyak goreng itu langka,” ujar Budi di Jakarta International Expo, Jakarta Pusat, Kamis (16/4).

Menurut Budi, persepsi kelangkaan muncul karena masyarakat terlalu berfokus pada Minyakita. Padahal, pasar menyediakan berbagai jenis minyak goreng lain, mulai dari merek alternatif hingga produk premium.

“Jadi jangan menyampaikan kalau minyak kita tidak ada. Bilangnya, narasinya, minyak goreng tidak ada. Yang dilihat itu Minyakita. Minyakita itu kan minyak DMO, jumlahnya terbatas,” jelasnya.

Ia menambahkan, Minyakita berasal dari kewajiban pasar domestik (DMO) yang volumenya memang tidak besar karena bergantung pada pasokan ekspor. Kondisi ini menyebabkan ketersediaannya tidak selalu merata di pasar.

Untuk mengatasi hal ini, Budi telah meminta produsen untuk menghadirkan minyak goreng second brand yang setara dengan Minyakita. Tujuannya adalah menyediakan alternatif dengan harga terjangkau guna menjaga keseimbangan pasar.

“Ada minyak second brand. Kita minta produsen membuat minyak second brand. Ini pembandingnya Minyakita. Kemudian juga ada minyak premium,” katanya.

Terkait harga, Budi mengakui adanya kenaikan terbatas yang dipicu oleh biaya produksi, terutama kemasan plastik.

“Ya ada sedikit juga naik. Karena kan imbas dari, kan mereka kemasannya plastik semua. Tapi tidak ada namanya kelangkaan,” ucapnya.

Di sisi lain, keluhan mengenai sulitnya mendapatkan Minyakita memang banyak muncul di lapangan. Sejumlah pedagang di Jakarta mengaku sudah berbulan-bulan tidak menerima pasokan. Salah seorang pedagang di Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan, bernama Elan, menyatakan tidak lagi mendapatkan pasokan.

Rekomendasi