Investor Indonesia Mulai Manfaatkan Blockchain untuk Membeli Saham AS

persen

Jakarta – Tren investasi aset dunia nyata atau Real-World Assets (RWA) melalui teknologi blockchain mencatatkan pertumbuhan signifikan di Indonesia sepanjang semester pertama tahun 2026.

Adopsi tokenisasi aset, yang merepresentasikan instrumen keuangan tradisional seperti saham dan indeks global ke dalam bentuk token digital, kini menjadi pilihan utama bagi investor lokal.

Aktivitas perdagangan pada platform investasi kripto Pintu menjadi cerminan nyata dari fenomena tersebut.

Data internal mencatat jumlah pengguna aktif bulanan atau monthly unique trader untuk produk tokenisasi saham meningkat sebesar 40 persen pada Mei 2026 dibandingkan Januari 2026.

Pertumbuhan lebih spesifik terlihat pada instrumen indeks global yang mencatatkan lonjakan minat cukup tinggi.

Token yang merepresentasikan indeks Nasdaq (QQQX) tercatat tumbuh 64 persen pada periode April hingga Mei.

Sementara itu, token indeks S&P 500 (SPYX) mencatatkan kenaikan sebesar 51 persen dalam periode yang sama.

Head of Product Marketing Pintu, Iskandar Mohammad, menyatakan bahwa lonjakan ini merupakan bukti nyata dari meningkatnya adopsi aset berbasis blockchain di pasar domestik.

“Perdagangan tokenisasi aset di Pintu mengalami peningkatan yang signifikan di mana jumlah monthly unique trader tokenized stocks tumbuh 40 persen pada bulan Mei dibandingkan dengan Januari 2026,” ujar Iskandar di Jakarta, Senin, 29 Juni 2026.

Ia menambahkan, capaian tersebut selaras dengan pola pertumbuhan minat investor terhadap tokenisasi aset di skala global.

Secara internasional, data dari RWA.xyz per 25 Juni 2026 menunjukkan kapitalisasi pasar aset dunia nyata berbasis blockchain telah menembus angka USD 32,23 miliar.

Angka tersebut mencerminkan kenaikan drastis jika dibandingkan dengan nilai kapitalisasi pada awal 2024 yang hanya berada di kisaran USD 1,8 miliar.

Fenomena ini dipicu oleh semakin banyaknya institusi keuangan global yang mulai mengintegrasikan teknologi blockchain dalam operasional mereka.

Bagi investor di Indonesia, tokenisasi aset memberikan solusi aksesibilitas yang jauh lebih efisien dibandingkan metode konvensional.

Investor kini dapat memperoleh eksposur ke pasar saham Amerika Serikat tanpa harus menghadapi hambatan birokrasi pembukaan rekening efek di luar negeri.

Iskandar merinci tiga faktor utama yang menjadi pendorong utama minat masyarakat Indonesia terhadap instrumen ini.

Pertama, efisiensi pajak final sebesar 0,21 persen yang hanya dikenakan pada saat transaksi penjualan dilakukan.

Kedua, fleksibilitas perdagangan yang memungkinkan investor melakukan aktivitas transaksi selama 24 jam penuh tanpa terikat jam operasional bursa saham tradisional.

Ketiga, kemudahan akses pembelian langsung menggunakan mata uang rupiah tanpa perlu melakukan konversi mata uang yang rumit.

Kendati menawarkan kemudahan, investor tetap diingatkan untuk memahami risiko yang melekat pada instrumen ini.

Nilai token secara otomatis akan mengikuti pergerakan harga aset acuan di pasar internasional yang memiliki tingkat volatilitas tinggi.

Para pelaku pasar disarankan untuk selalu melakukan riset mendalam sebelum menempatkan modal pada aset digital tersebut.

Pemahaman akan karakteristik instrumen dan manajemen risiko menjadi kunci utama dalam memanfaatkan peluang investasi di era tokenisasi aset ini.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar