Pasokan Batubara Tersendat, Kinerja Emiten Semen Terancam Melemah

persen

Jakarta – Industri semen dalam negeri tengah menghadapi ancaman serius seiring krisis pasokan batubara yang melanda sejak awal 2026. Kelangkaan bahan bakar utama ini memaksa sejumlah pabrik menghentikan operasionalnya, sekaligus menekan margin keuntungan para emiten sektor semen di tengah tantangan pasar yang sudah sulit.

Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) mencatat bahwa hingga 25 Maret 2026, rata-rata stok batubara di pabrik hanya mampu bertahan hingga minggu ketiga April. Situasi ini diperparah oleh kebijakan pemerintah yang memprioritaskan pasokan batubara untuk sektor ketenagalistrikan, serta keterlambatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) bagi pemasok batubara.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai krisis batubara ini menjadi sentimen negatif berat bagi emiten semen tahun ini. Kondisi tersebut terjadi saat industri semen sudah tertekan oleh masalah struktural, yakni kelebihan kapasitas produksi (oversupply) yang signifikan. Kapasitas produksi nasional mencapai 120 juta ton, sementara kebutuhan domestik hanya berkisar 65 juta ton.

Menurut Liza, kinerja emiten semen sepanjang 2026 kemungkinan besar akan tumbuh terbatas. Pertumbuhan tersebut tidak lagi didorong oleh ekspansi volume, melainkan oleh efisiensi biaya.

Pengamat Pasar Modal dan Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menambahkan bahwa tahun 2026 akan menjadi masa konsolidasi bagi industri ini. Permintaan domestik dari sektor properti yang belum pulih total, serta ketergantungan pada proyek infrastruktur, membuat pertumbuhan kinerja emiten bersifat sangat selektif.

Guna bertahan, para produsen semen kini berupaya meningkatkan penggunaan energi alternatif seperti refuse derived fuel (RDF) dan biomassa untuk mengurangi ketergantungan pada batubara. Optimalisasi rantai pasok dan efisiensi operasional menjadi kunci utama agar biaya tetap kompetitif di pasar yang sangat sensitif terhadap harga.

Strategi lainnya adalah memperluas pasar ekspor ke negara-negara dengan permintaan tinggi seperti Australia dan Bangladesh. Meskipun ekspor sempat mencatatkan kenaikan 32,2% secara tahunan (yoy) pada 2025, kontribusinya saat ini masih belum cukup untuk menutupi tekanan margin di pasar domestik yang ketat.

Dalam kondisi penuh tantangan ini, emiten dengan neraca keuangan kuat dan efisiensi tinggi dinilai lebih mampu bertahan. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) disebut memiliki posisi defensif yang lebih baik berkat kekuatan finansialnya, sementara PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) memiliki keunggulan dalam skala distribusi namun lebih rentan terhadap fluktuasi biaya.

Para analis pun memberikan pandangan berbeda terkait saham sektor semen. Kiwoom Sekuritas menetapkan target harga INTP di level Rp 7.600 dengan posisi defensif, sementara untuk SMGR disarankan hold. Di sisi lain, Republik Investor merekomendasikan speculative buy untuk SMGR dan INTP, serta trading buy untuk saham PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT).

Rekomendasi