Selat Hormuz Kembali Dibuka, Harga Minyak Dunia Turun ke US$90,59

persen

Jakarta – Harga minyak dunia terkoreksi pada perdagangan Kamis (16/4/2026) menyusul munculnya sinyal potensi pembukaan kembali Selat Hormuz. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 70 sen atau 0,8 persen ke level US$90,59 per barel, sementara minyak Brent merosot 44 sen ke posisi US$94,49 per barel.

Sentimen pasar ini dipicu oleh kabar bahwa Teheran memberi indikasi kesediaan mengizinkan kapal melintas melalui sisi Oman di Selat Hormuz, dengan syarat tercapainya kesepakatan damai untuk meredam konflik dengan Amerika Serikat. Meski demikian, para pelaku pasar masih bersikap waspada mengingat rekam jejak negosiasi antara kedua negara yang sering mengalami jalan buntu.

Analis Fujitomi Securities, Toshitaka Tazawa, memprediksi harga minyak akan terus bergerak fluktuatif di kisaran US$80 hingga US$100 per barel. Volatilitas ini diproyeksikan berlanjut hingga ada kepastian mengenai normalisasi jalur pelayaran internasional tersebut.

Terkait kondisi di lapangan, Presiden AS Donald Trump melalui akun Truth Social menyatakan rencananya untuk membuka blokade Selat Hormuz secara permanen. Trump mengklaim langkah ini diambil demi kepentingan global serta menyusul kesepakatan dengan China terkait penghentian pengiriman senjata ke Iran.

Kendati demikian, klaim pembukaan akses tersebut dibantah oleh pejabat pemerintah AS lainnya. Hingga saat ini, blokade di Selat Hormuz dilaporkan masih berjalan efektif. Berdasarkan data CENTCOM, belum ada satu pun kapal yang berhasil melintasi jalur tersebut, yang membuat arus perdagangan laut dari dan menuju Iran tetap lumpuh.

Di sisi lain, tekanan terhadap ekonomi Iran tetap berlanjut. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa Washington tidak akan memberikan pengecualian sanksi bagi pihak mana pun yang bertransaksi minyak dengan Iran maupun Rusia.

Saat ini, upaya diplomatik tengah diupayakan kembali melalui mediasi pihak ketiga, termasuk keterlibatan militer Pakistan. Pertemuan perundingan lanjutan dijadwalkan akan dipertimbangkan kembali dalam waktu dekat menyusul kegagalan negosiasi sebelumnya pada 12 April lalu.

Rekomendasi