Jakarta – Hubungan erat Indonesia dan Jepang kembali ditegaskan melalui kunjungan resmi Presiden Prabowo Subianto ke Jepang, yang dimulai sejak Minggu (29/3). Kunjungan ini memfokuskan pada penguatan kerja sama ekonomi kedua negara.
Presiden Prabowo didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam kunjungan tersebut.
Pada hari kedua kunjungan, Senin (30/3), Presiden Prabowo bersama Menko Airlangga dan sejumlah menteri menghadiri Forum Bisnis Indonesia-Jepang di Imperial Hotel Tokyo.
Dalam forum tersebut, Presiden Prabowo menegaskan komitmen untuk meningkatkan kemitraan ekonomi yang telah terjalin puluhan tahun.
“Saya hadir di sini bukan hanya untuk melanjutkan kemitraan yang sudah ada, tetapi untuk mendorongnya ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih cepat,” ujar Prabowo.
Forum ini menjadi ajang bagi Indonesia untuk menegaskan posisinya sebagai mitra strategis utama Jepang di kawasan.
Hubungan ekonomi Indonesia dan Jepang saat ini semakin solid. Jepang merupakan tujuan ekspor terbesar ke-4 Indonesia dengan nilai US$17,61 miliar.
Jepang juga merupakan salah satu investor utama di Indonesia, menempati peringkat ke-5 dengan total investasi sebesar US$3,13 miliar. Investasi ini terutama mengalir ke sektor industri otomotif dan alat transportasi, diikuti sektor kimia dan farmasi.
Selain itu, Jepang berperan penting dalam mendukung pembangunan infrastruktur skala besar di Indonesia melalui skema kerja sama pemerintah dan badan usaha serta bantuan pembangunan.
Di hadapan para pemimpin dunia usaha, Prabowo menyampaikan apresiasi atas kualitas investasi Jepang yang dinilai tinggi dengan karakter disiplin, penguasaan teknologi, serta komitmen jangka panjang.
Dalam kesempatan tersebut, ditandatangani 10 Nota Kesepahaman (MoU) dengan total nilai kerja sama mencapai sekitar US$23,1 miliar atau Rp392,7 triliun.
Pembaruan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) diharapkan dapat memperkuat fondasi kerja sama kedua negara melalui peningkatan akses pasar, perluasan kolaborasi, serta modernisasi kerangka ekonomi bilateral.
Ke depannya, kerja sama Indonesia dan Jepang diharapkan dapat melampaui kerja sama ekonomi tradisional dan beralih menuju penciptaan solusi masa depan secara bersama.
Tiga area utama kerja sama yang menjadi fokus adalah Transisi Energi dan Pertumbuhan Hijau, Transformasi Industri dan Hilirisasi, serta Memperkuat Rantai Pasok Global.
“Pertemuan business-to-business dan pertukaran MoU ini merupakan langkah konkret menuju pembangunan kemitraan yang lebih kuat,” kata Menko Airlangga.
Turut hadir dalam Forum Bisnis Indonesia-Jepang antara lain Utusan Khusus Presiden untuk Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo, Menteri Investasi dan Hilirisasi RI Rosan Roeslani, serta perwakilan dari berbagai lembaga dan organisasi bisnis dari kedua negara.




















