Jakarta – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) resmi menetapkan pembagian dividen tunai senilai Rp 2,08 triliun kepada para pemegang saham.
Keputusan tersebut merupakan wujud komitmen perusahaan dalam memberikan nilai tambah bagi investor di tengah dinamika pasar modal yang menantang.
Nilai dividen yang dibagikan ini setara dengan 98 persen dari total perolehan laba bersih perusahaan untuk tahun buku 2025.
Berdasarkan perhitungan tersebut, setiap pemegang saham MTEL akan menerima dividen tunai sebesar Rp 25,6 per lembar saham.
Senior Research Analyst Sinarmas Sekuritas Indonesia, Yosua Zisokhi, menilai langkah korporasi ini sangat menarik bagi para investor.
Pada perdagangan Rabu (1/7/2026), saham MTEL ditutup di level Rp 505 per lembar.
Dengan harga tersebut, estimasi dividend yield yang ditawarkan anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk ini mencapai 5,06 persen.
Tingkat imbal hasil tersebut dinilai cukup atraktif, terutama mengingat kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami koreksi signifikan sepanjang tahun 2026.
Data mencatat IHSG telah terkoreksi sebesar 34,14 persen secara year-to-date hingga pertengahan tahun ini.
Yield jelas atraktif karena equity market tercermin dari IHSG saat ini secara year-to-date turun signifikan, ungkap Yosua dalam paparan, Rabu (1/7/2026).
Yosua menambahkan bahwa dividen kini menjadi sumber arus kas yang sangat dicari oleh para pelaku pasar di tengah fluktuasi indeks.
Dalam jangka pendek, kebijakan ini diyakini akan menjadi katalis positif yang menjaga daya tarik saham MTEL di mata investor.
Namun, Yosua mengingatkan bahwa pergerakan saham dalam jangka panjang tetap akan sangat bergantung pada fundamental perusahaan.
Fokus utama investor ke depan akan tertuju pada kemampuan emiten dalam mempertahankan pertumbuhan bisnis dan menjaga kesehatan neraca keuangan.
Keputusan untuk membagikan hampir seluruh laba bersih tidak mengganggu kapasitas ekspansi bisnis Mitratel.
Struktur permodalan perusahaan tetap terjaga dengan rasio utang terhadap ekuitas atau debt-to-equity ratio (DER) di level 0,56 kali.
Angka tersebut tercatat sebagai salah satu yang terendah di antara perusahaan infrastruktur menara telekomunikasi lainnya.
Selain itu, perusahaan memiliki kemampuan menghasilkan arus kas yang sangat solid.
Hingga kuartal I-2026, Mitratel mencatatkan recurring free cash flow sebesar Rp 5,7 triliun.
Dana tersebut memberikan ruang pendanaan internal yang cukup bagi perusahaan untuk membiayai belanja modal maupun peluang akuisisi strategis.
Posisi kas dan setara kas yang mencapai Rp 2,8 triliun per akhir kuartal I-2026 juga menjamin fleksibilitas finansial perusahaan.
Kombinasi dividend yield yang menarik, neraca yang sehat, kemampuan menghasilkan arus kas yang kuat, serta ruang ekspansi yang masih besar menjadikan MTEL tetap memiliki prospek investasi yang menarik, tegas Yosua.
Selain pembagian dividen, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) juga merestui aksi korporasi berupa merger.
Mitratel akan melakukan penggabungan usaha dengan PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT) dan PT Persada Sokka Tama (PST).
Langkah merger ini diharapkan mampu meningkatkan skala bisnis dan memperkuat portofolio infrastruktur telekomunikasi perusahaan di masa depan.





















