Jakarta – Nilai tukar rupiah diprediksi mempertahankan momentum penguatan pada perdagangan hari ini, Senin (20/7/2026), di tengah dinamika pasar global yang masih diwarnai ketidakpastian.
Sentimen positif dari data ekonomi domestik menjadi motor utama yang menopang ketahanan mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.870 hingga Rp 17.930 per dolar AS sepanjang hari ini.
Optimisme ini tidak terlepas dari capaian impresif sepanjang pekan lalu saat rupiah mencatatkan apresiasi signifikan.
Pada penutupan perdagangan Jumat (17/7/2026), kurs rupiah di pasar spot berhasil menguat sebesar Rp 65 atau 0,36% ke level Rp 17.921 per dolar AS.
Pencapaian tersebut sekaligus menggenapkan penguatan mingguan sebesar 0,80% dari posisi akhir pekan sebelumnya di angka Rp 18.065 per dolar AS.
Tren serupa juga terpantau pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang menguat 0,54% ke posisi Rp 17.944 per dolar AS pada penutupan pekan lalu.
Secara akumulatif, kurs Jisdor telah menguat 0,69% dibandingkan posisi pada akhir pekan sebelumnya yang berada di level Rp 18.069 per dolar AS.
Katalis utama penguatan ini berasal dari laporan Bank Indonesia mengenai aktivitas dunia usaha yang menunjukkan peningkatan signifikan pada kuartal II-2026.
Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) menunjukkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) meningkat menjadi 12,97%, naik dari 10,11% pada kuartal pertama.
Peningkatan ini didorong oleh kinerja solid di sektor pertanian, konstruksi, pertambangan, serta akomodasi dan penyediaan makan minum.
Momentum hari besar keagamaan dan periode libur sekolah menjadi faktor pendukung utama yang memacu produktivitas sektor-sektor tersebut.
Kapasitas produksi terpakai juga tercatat mengalami kenaikan menjadi 73,8% dari level sebelumnya di 73,33%.
Peningkatan kapasitas tersebut terutama disumbang oleh sektor pertanian, kehutanan, perikanan, pertambangan, serta pengadaan listrik.
“Sementara itu, kondisi keuangan dunia usaha secara umum tetap baik pada aspek likuiditas maupun rentabilitas, dengan akses kredit yang tetap mudah,” ujar Ibrahim, Jumat (17/7/2026).
Kendati optimisme domestik cukup kuat, pelaku pasar tetap diminta waspada terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
Serangan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran baru terkait gangguan rantai pasok minyak mentah dunia.
Kondisi tersebut berisiko menjaga harga minyak tetap di level tinggi, yang pada gilirannya dapat memicu kembali tekanan inflasi global.
Ibrahim menilai, lonjakan harga energi ini akan memperumit kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
“Pejabat Federal Reserve terus menekankan bahwa risiko inflasi tetap ada. Mereka membutuhkan beberapa bulan lagi data inflasi yang rendah sebelum mempertimbangkan penurunan suku bunga, terlebih harga minyak berpotensi tetap tinggi akibat konflik di Timur Tengah,” jelasnya, Jumat (17/7/2026).



















