Rupiah Diproyeksi Melemah Tertekan Lonjakan Harga Minyak Dunia

Rupiah Diproyeksi Melemah Tertekan Lonjakan Harga Minyak Dunia

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan mengalami tekanan sepanjang perdagangan hari ini, Kamis (23/7/2026).

Mata uang Garuda tersebut sempat dibuka menguat tipis sebesar 0,02% atau 3 poin ke level Rp 17.914 per dolar AS pada awal sesi perdagangan.

Namun, penguatan tersebut dinilai hanya bersifat sementara di tengah bayang-bayang kenaikan harga minyak mentah dunia.

Eskalasi ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah menjadi pemicu utama kenaikan harga komoditas energi global tersebut.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menyatakan bahwa kondisi geopolitik ini secara langsung memberikan sentimen negatif bagi mata uang berkembang, termasuk rupiah.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah harga minyak yang kembali naik oleh tensi geopolitik di Timur Tengah,” ujar Lukman sebagaimana dikutip dari keterangan resminya, Kamis (23/7/2026).

Meski demikian, Lukman memandang bahwa potensi pelemahan rupiah tidak akan berlangsung secara drastis.

Hal ini didasari oleh adanya perbaikan pada sentimen domestik yang mulai terlihat dalam beberapa waktu terakhir.

“Pelemahan akan terbatas seiring mulai membaiknya sentimen domestik akhir-akhir ini,” tambahnya.

Dalam analisisnya, Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang kisaran Rp 17.850 hingga Rp 18.000 per dolar AS sepanjang hari ini.

Sementara itu, Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, memberikan proyeksi serupa dengan estimasi depresiasi tipis hingga level Rp 17.920 per dolar AS.

Menurut Fikri, kenaikan harga minyak global akibat krisis di Timur Tengah telah meningkatkan permintaan investor terhadap aset aman atau safe haven.

Dinamika ini secara otomatis memberikan beban tambahan bagi mata uang negara-negara berkembang di pasar global.

Selain faktor eksternal, pelaku pasar saat ini juga tengah mencermati kebijakan moneter yang diambil oleh Bank Indonesia.

Keputusan otoritas moneter untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75% menjadi poin penting yang diperhatikan investor.

Tekanan terhadap rupiah juga diperburuk oleh perilaku investor asing yang mencatatkan aksi jual bersih atau net sell di pasar saham domestik senilai Rp 920 miliar.

Kendati demikian, Fikri menilai masih ada faktor penyeimbang yang dapat menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah.

Masuknya dana dari Devisa Hasil Ekspor (DHE) ke dalam sistem keuangan domestik diharapkan mampu menjadi bantalan bagi rupiah.

Aliran dana tersebut diproyeksikan dapat meredam tekanan eksternal yang saat ini tengah menghantui pasar keuangan nasional.

Hingga pukul 09.10 WIB, rupiah tercatat berada di level Rp 17.916 per dolar AS, atau hanya menguat tipis 0,01% dari posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar