Jakarta – PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) resmi terdepak dari daftar konstituen indeks LQ45 terhitung sejak 3 Agustus 2026.
Keputusan Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut didasarkan pada hasil evaluasi berkala terhadap likuiditas, kapitalisasi pasar, serta fundamental perusahaan.
Performa harga saham emiten menara telekomunikasi ini memang mengalami tekanan signifikan sepanjang tahun berjalan dengan koreksi mencapai 31,28% ke level Rp 402 per lembar saham.
Meski demikian, para pelaku pasar menilai bahwa perubahan komposisi indeks ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor teknikal pasar ketimbang penurunan kualitas bisnis inti perusahaan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyatakan bahwa tekanan yang terjadi di pasar merupakan dampak langsung dari penyesuaian portofolio oleh manajer investasi.
“Dampaknya lebih bersifat teknikal jangka pendek dari rebalancing reksadana berbasis LQ45. Koreksi saham TOWR sekitar 31% secara year to date (YTD) juga sudah mencerminkan sebagian besar tekanan tersebut,” ujar Abida dikutip dari laporan analisis pasar, Rabu (6/8/2026).
Secara fundamental, TOWR dinilai tetap kokoh karena model bisnisnya yang mengandalkan pendapatan berulang atau recurring income dari kontrak sewa jangka panjang.
Stabilitas arus kas dari kontrak menara tersebut memberikan visibilitas pendapatan yang cukup tinggi bagi perusahaan di tengah dinamika pasar modal.
Namun, investor tetap diminta untuk memperhatikan beberapa tantangan makroekonomi yang membayangi kinerja perusahaan ke depan.
Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang berada di level 5,75% berpotensi memperberat beban biaya bunga perseroan dalam jangka waktu menengah.
Selain itu, konsolidasi di industri telekomunikasi nasional turut mempengaruhi pertumbuhan organik jumlah penyewa menara yang cenderung melambat.
Di sisi lain, terdapat sejumlah katalis yang diproyeksikan mampu menjaga momentum pertumbuhan bisnis TOWR.
Akselerasi jaringan 5G yang digencarkan oleh operator besar seperti PT Telkom Indonesia Tbk dan PT Indosat Tbk diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan densifikasi menara.
Potensi ekspansi pada lini bisnis fiber optik serta strategi monetisasi aset melalui skema sale and leaseback juga dinilai sebagai pendorong kinerja masa depan.
Kinerja keuangan perseroan pada semester pertama tahun 2026 pun menunjukkan tren yang tetap positif.
TOWR membukukan pendapatan sebesar Rp 7,20 triliun, meningkat 12,69% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 6,39 triliun.
Laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk juga tercatat tumbuh sebesar 12,12% menjadi Rp 1,85 triliun.
Equity Analyst Phillip Sekuritas, Edo Ardiansyah, memproyeksikan tren pertumbuhan tersebut akan berlanjut hingga akhir tahun 2026.
Pendapatan perseroan diprediksi mencapai Rp 13,731 triliun, sementara laba bersih diperkirakan menembus angka Rp 4,046 triliun.
Berdasarkan proyeksi kinerja tersebut, pihak sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham TOWR dengan target harga Rp 580 per saham dalam kurun waktu 12 bulan ke depan.






















