Jakarta – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) resmi menempuh langkah strategis guna memperbaiki struktur permodalan perseroan melalui penuntasan aksi korporasi penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) kelima. Langkah ini menjadi momentum krusial bagi perusahaan untuk memangkas beban utang yang timbul pasca-akuisisi bisnis Jalan Tol Cimanggis-Cibitung pada tahun lalu.
Berdasarkan prospektus resmi yang dikutip Rabu (22/7), BNBR membidik perolehan dana segar hingga Rp 4,76 triliun. Angka tersebut berasal dari penerbitan 89,91 miliar saham baru Seri E dengan harga pelaksanaan Rp 53 per lembar saham.
BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan aksi korporasi ini akan berdampak signifikan terhadap kesehatan neraca keuangan perseroan. Rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) diperkirakan menyusut drastis dari posisi 536% menjadi 211%.
Sebagian besar dana hasil right issue dialokasikan secara khusus untuk melunasi kewajiban keuangan perseroan. Sekitar Rp 3,66 triliun akan disalurkan kepada anak usaha, PT Bakrie Toll Indonesia (BTI), untuk melunasi pokok pinjaman kepada Hartman International Pte. Ltd. Selain itu, perusahaan mengalokasikan Rp 700 miliar guna melunasi pinjaman kepada PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU).
Manajemen BNBR menegaskan bahwa pemegang saham lama yang tidak mengeksekusi haknya akan mengalami dilusi kepemilikan maksimal 34,15%. Dalam proses ini, PT Bakrie Capital Indonesia (BCI) mengambil peran sebagai pembeli siaga. BCI menampung pengalihan hak dari dua pemegang saham utama, yakni Port Fraser International Ltd dan Fountain City Investment Ltd.
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai langkah ini sebagai titik balik penting bagi BNBR. “Kondisi ini memberikan ruang yang lebih besar bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi dan meningkatkan fleksibilitas keuangan di masa depan,” ujarnya sebagaimana dikutip Katadata, Rabu (22/7).
Elandry menambahkan, pasar kini menaruh perhatian pada kemampuan manajemen dalam mengonversi perbaikan struktur keuangan menjadi pertumbuhan laba yang konsisten. Jika rencana bisnis berjalan mulus, ia memprediksi harga saham BNBR berpotensi menguji kisaran Rp 110 hingga Rp 120 dalam jangka menengah.
Pengamat pasar modal, Rita Efendy, turut menyoroti fundamental perusahaan yang kini lebih terdiversifikasi. Ia menyebut portofolio BNBR yang merambah sektor manufaktur, kendaraan listrik melalui PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk, hingga infrastruktur jalan tol menjadi katalis positif.
Keterlibatan BNBR dalam proyek Waste to Energy (WtE) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di bawah inisiatif Danantara juga dipandang sebagai sumber pendapatan baru di masa depan. Rita mencatat bahwa secara kinerja, BNBR telah menunjukkan sinyal perbaikan dengan capaian laba bersih Rp 503 miliar pada tahun 2025, yang mencerminkan pertumbuhan 49,6% secara tahunan. “Keberhasilan turnaround tetap bergantung pada realisasi penggunaan dana rights issue, pengurangan utang, dan eksekusi proyek-proyek baru,” ungkap Rita.























