Jakarta – Eskalasi ketegangan geopolitik di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak mentah global yang kini mengancam stabilitas pasar finansial dunia.
Data Trading Economics per 10 Juli 2026 mencatat harga minyak Brent telah menembus level US$ 76,01 per barel.
Kenaikan harga energi ini merupakan respons pasar atas keputusan pemerintah Amerika Serikat yang mencabut lisensi ekspor minyak Iran.
Kebijakan tersebut diambil menyusul insiden serangan terhadap tiga kapal komersial yang melintasi jalur krusial Selat Hormuz.
Lonjakan harga energi ini secara langsung meningkatkan risiko inflasi global yang berpotensi menekan pasar modal.
Di tengah gejolak komoditas tersebut, pasar aset kripto menunjukkan dinamika yang cukup menarik perhatian investor.
Data CoinMarketCap per 10 Juli 2026 menunjukkan harga Bitcoin masih bertahan di kisaran US$ 63.851,75.
Para analis memprediksi bahwa fluktuasi harga minyak mentah akan menjadi kompas utama bagi arah pergerakan aset digital dalam beberapa bulan mendatang.
Co-founder CryptoWatch dan Pengelola Channel Duit Pintar, Christopher Tahir, menilai ketegangan geopolitik saat ini memiliki korelasi linier dengan pasar kripto.
Ia menyebut sentimen pasar akan sangat dipengaruhi oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.
“Untuk kuartal tiga tahun ini, bitcoin berpeluang untuk lebih lanjut dikarenakan perubahan sentimen pasar yang disebabkan oleh eskalasi di Timur Tengah baru-baru ini,” ujarnya dikutip dari wawancara pada Kamis (9/7/2026).
Perubahan peta makro ekonomi ini berpotensi memicu kebijakan moneter yang lebih ketat dari Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed.
Pelaku pasar saat ini tengah mencermati data tenaga kerja dan inflasi di Amerika Serikat sebagai indikator penentu kebijakan suku bunga.
Christopher menekankan bahwa keseimbangan dari kedua indikator ekonomi tersebut akan menentukan arah arus investasi global ke depan.
“Tentunya, untuk saat ini, data tenaga kerja di AS dan juga kondisi inflasi menjadi dua hal utama yang harus diseimbangkan dan dipertimbangkan oleh The Fed, sehingga perubahan kondisi dari dua data ini akan mengubah sentimen secara,” kata Christopher.
Dalam menghadapi ketidakpastian ini, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dalam menempatkan modal.
Strategi yang paling direkomendasikan adalah fokus pada aset kripto dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar yang besar.
“Untuk saat ini, ada baiknya untuk bertransaksi di kripto yang sudah lebih matang, seperti Bitcoin,” tambahnya.
Bagi investor jangka panjang, teknik akumulasi aset secara bertahap saat terjadi koreksi dinilai jauh lebih efektif untuk menghadapi siklus pasar hingga dua tahun ke depan.
Sementara itu, pelaku pasar jangka pendek diimbau untuk lebih teliti memperhatikan level teknikal guna mengamankan imbal hasil.
Christopher memprediksi bahwa pergerakan Bitcoin akan sangat bergantung pada kemampuan aset tersebut dalam mempertahankan batas psikologis pasar.
“Menurut saya area krusial di 60.000 USD titik fokus pada bulan ini, tetapi kalau kita ingin berfokus hingga kuartal ini, menurut saya ada peluang harga untuk turun ke kisaran 50.000 USD,” pungkasnya.




















