Jakarta – PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) diproyeksikan akan mengalami pemulihan kinerja yang signifikan pada semester II-2026.
Optimisme ini muncul meskipun perusahaan sempat menghadapi tantangan berat akibat pelemahan harga ayam broiler serta day-old chick (DOC) pada kuartal II-2026.
Analis Indo Premier Sekuritas, Andrianto Saputra, menyatakan bahwa tekanan harga yang terjadi pada periode tersebut bersifat sementara.
“Prospek JPFA masih menarik karena kinerja perseroan diperkirakan kembali pulih pada semester II-2026,” ujarnya dalam riset tertanggal 20 Agustus 2026.
Pemulihan tersebut diprediksi akan didorong oleh stabilitas harga DOC dan broiler yang lebih kuat.
Selain itu, implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) diharapkan menjadi katalis positif bagi permintaan produk perusahaan.
Berdasarkan analisis tersebut, Indo Premier Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi buy untuk saham JPFA.
Target harga saham ditetapkan pada level Rp 3.400 per lembar.
Valuasi tersebut mengacu pada rasio price to earning (PE) sebesar 9,5 kali untuk tahun 2026, yang setara dengan rata-rata historis lima tahun.
Kondisi pasar saat ini mencatat bahwa harga saham JPFA ditutup di level Rp 2.210 per lembar pada perdagangan Jumat (21/8/2026).
Sebelumnya, JPFA membukukan laba bersih sebesar Rp 659 miliar pada kuartal II-2026, atau tumbuh 18,6% secara tahunan.
Namun, realisasi laba tersebut dinilai belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi pasar karena hanya mencapai 15% dari konsensus.
Tekanan margin terjadi akibat penurunan harga DOC sebesar 24,6% dan harga broiler sebesar 16,2% secara kuartalan.
Margin EBIT segmen broiler bahkan sempat tertekan hingga negatif -6,5%.
Kondisi ini terjadi karena harga jual rata-rata broiler berada di bawah titik impas atau break-even point perusahaan.
Di sisi lain, kinerja semester I-2026 secara keseluruhan masih menunjukkan performa yang cukup kuat.
JPFA berhasil mencatatkan laba bersih Rp 2,5 triliun pada semester I-2026, melonjak 100% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan perusahaan pada periode tersebut tercatat mencapai Rp 35,4 triliun, meningkat 28,7% secara tahunan.
Segmen makanan olahan juga menunjukkan kinerja positif dengan peningkatan margin EBIT sebesar 140 basis poin secara kuartalan.
Meskipun prospek terlihat menjanjikan, investor tetap diminta mewaspadai sejumlah risiko eksternal.
Faktor-faktor seperti dampak fenomena El Niño terhadap biaya input pakan tetap perlu dicermati.
Selain itu, fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah dan volatilitas harga komoditas unggas menjadi variabel penting yang dapat memengaruhi target harga saham ke depan.






















