Transformasi Bisnis BEEF Berpotensi Dongkrak Kinerja dan Prospek Sahamnya

persen

Jakarta – PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) mencatatkan tren pemulihan kinerja bisnis yang signifikan berkat pergeseran fokus operasional ke sektor perdagangan daging beku impor. Langkah strategis ini dinilai mampu memperkuat posisi perusahaan di pasar sekaligus menangkap peluang dari tingginya kebutuhan protein hewani di Indonesia yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh produksi domestik.

Analis PT Sinarmas Sekuritas, Yosua Zisokhi, dalam risetnya tertanggal 18 Juni 2026, menyatakan bahwa keberhasilan transformasi bisnis tersebut menjadi katalis utama bagi prospek pertumbuhan jangka panjang BEEF. Perubahan arah bisnis ini memungkinkan perseroan untuk merespons celah pasokan daging sapi dan kerbau nasional yang diperkirakan masih mengalami defisit rata-rata 250.000 ton per tahun hingga 2030.

Data menunjukkan bahwa konsumsi daging sapi per kapita di Indonesia tumbuh secara stabil sebesar 1,77 persen per tahun sepanjang periode 2021 hingga 2025. Pada tahun 2025, tingkat konsumsi mencapai 2,7 kilogram per kapita. Kesenjangan antara permintaan yang terus meningkat dengan kapasitas produksi dalam negeri menciptakan ruang pasar yang luas bagi BEEF untuk meningkatkan volume perdagangan daging impor secara berkelanjutan.

Selain memperkuat lini perdagangan, perusahaan juga telah melakukan langkah konkret dengan memperluas kapasitas fasilitas penyimpanan dingin atau cold storage. Infrastruktur ini krusial untuk menjaga kualitas produk dan mendukung operasional perdagangan yang lebih masif. Diversifikasi juga dilakukan melalui pengembangan segmen penggemukan sapi dan sektor produk susu atau dairy. Segmen baru ini diproyeksikan memberikan margin keuntungan yang lebih tebal, yang pada gilirannya akan memperbaiki profitabilitas perusahaan secara keseluruhan dalam jangka menengah.

Sinarmas Sekuritas memberikan rekomendasi buy terhadap saham BEEF dengan target harga Rp 235 per saham untuk periode 12 bulan ke depan. Dengan posisi harga saham saat ini di level Rp 158, target tersebut menawarkan potensi kenaikan atau upside hingga 49 persen. Valuasi ini dianggap menarik dengan estimasi price-to-earnings (P/E) rasio sebesar 11,1 kali untuk proyeksi tahun 2026 dan 10 kali untuk tahun 2027.

Secara finansial, BEEF diproyeksikan mampu mencatatkan penjualan hingga Rp 7,74 triliun pada akhir 2026, meningkat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang sebesar Rp 6,47 triliun. Laba bersih perusahaan juga diperkirakan tumbuh menjadi Rp 172 miliar pada 2026, naik dari capaian tahun 2025 sebesar Rp 129 miliar.

Meski prospek pertumbuhan dinilai positif, investor tetap perlu mencermati sejumlah faktor risiko. Yosua mengingatkan bahwa fluktuasi harga komoditas daging di pasar global, tingkat persaingan industri yang ketat, serta potensi perubahan kebijakan pemerintah terkait regulasi impor tetap menjadi variabel yang dapat memengaruhi kinerja keuangan perusahaan di masa depan. Dukungan kebijakan ketahanan pangan nasional saat ini menjadi faktor pendukung utama yang menjaga optimisme terhadap fundamental bisnis BEEF ke depan.

Rekomendasi