IHSG Berpotensi Uji Level 6.577 di Tengah Aksi Jual Asing

persen

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih memiliki ruang untuk melanjutkan tren penguatan jangka pendek menuju target level 6.577. Optimisme ini tetap bertahan di tengah bayang-bayang tekanan jual serta aksi keluar dana asing yang masih mewarnai pasar modal domestik dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan analisis teknikal dari tim riset MNC Sekuritas, koreksi sebesar 0,78 persen ke level 6.172 pada perdagangan sebelumnya tidak mengubah tren penguatan utama. Indeks dinilai masih mampu bertahan di atas rata-rata pergerakan 20 hari atau MA20. Secara struktural, IHSG saat ini sedang berada dalam fase konsolidasi yang menjadi bagian dari wave [iv] dari wave 3.

Tim analis memperkirakan indeks akan menguji rentang 6.476 hingga 6.577. Namun, pelaku pasar diingatkan untuk tetap mencermati potensi koreksi lanjutan pada area 6.051 hingga 6.113. Adapun level support IHSG dipatok pada 5.784 dan 5.594, sementara resistance berada di level 6.286 dan 6.459.

Senada dengan pandangan tersebut, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa potensi penguatan terbatas IHSG didukung oleh terbentuknya pola hammer candle. Secara teknis, pola ini menjadi sinyal awal pembalikan arah atau reversal. Indikator Stochastic dan Relative Strength Index (RSI) saat ini juga masih memberikan sinyal positif, meskipun investor perlu mewaspadai penurunan volume transaksi yang menunjukkan bahwa penguatan belum sepenuhnya solid.

Perhatian investor saat ini tertuju pada saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps yang menjadi indikator utama aliran dana asing. Dari sisi sentimen global, pasar tengah memantau hasil awal Global Market Accessibility Review dari MSCI yang menempatkan posisi Indonesia relatif aman dalam kelompok pasar berkembang atau emerging market. Meski demikian, isu transparansi kepemilikan masih menjadi catatan tersendiri.

Faktor eksternal lainnya adalah sikap wait and see pelaku pasar menjelang keputusan final Annual Market Classification MSCI pada 23-24 Juni 2026, serta agenda FTSE rebalancing yang efektif berlaku pada akhir pekan. Sementara dari domestik, kebijakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen menjadi perhatian utama guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi.

Di pasar valuta asing, rupiah tercatat melemah 0,18 persen ke level 17.794 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh sentimen hawkish dari pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Amerika Serikat, di mana terdapat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang. Di sisi geopolitik, kabar positif datang dari kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, sehingga diharapkan mampu meredakan gangguan pasokan energi global.

Terkait strategi investasi, MNC Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness untuk saham ASII pada rentang 4.590-4.740 dengan target 5.025-5.225, serta JPFA pada rentang 1.870-1.930 dengan target 2.100-2.210. Selain itu, ICBP direkomendasikan trading buy di area 6.525-6.600 dengan target 6.825-6.950, dan PANI di kisaran 4.840-5.950 dengan target harga mencapai 7.425 hingga 9.025. Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan investor untuk mencermati saham ASII, BBTN, dan TOWR.

Rekomendasi