WASHINGTON – Gencatan senjata selama 10 hari antara kelompok Hizbullah dan Israel di Lebanon resmi berlaku pada Kamis ini. Langkah ini dinilai sebagai pembuka jalan menuju perjanjian damai yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran, sekaligus membawa optimisme akan berakhirnya konflik berkepanjangan di kawasan tersebut.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pertemuan lanjutan dengan Iran kemungkinan akan terlaksana akhir pekan ini. Trump mengklaim kedua pihak kini hampir mencapai kesepakatan terkait program nuklir Teheran. Dalam negosiasi tersebut, Iran dikabarkan menawarkan penghentian aktivitas nuklir selama lebih dari 20 tahun.
“Kami hampir mencapai kesepakatan. Jika itu terjadi, harga minyak dan inflasi akan turun drastis, serta yang terpenting, bencana nuklir dapat dihindari,” ujar Trump di Gedung Putih.
Konflik yang dipicu oleh serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu telah menelan ribuan korban jiwa dan memicu lonjakan harga minyak global. Perang meluas ke Lebanon pada 2 Maret ketika Hizbullah melancarkan serangan untuk mendukung Teheran, yang dibalas dengan serangan besar-besaran Israel. Akibatnya, sedikitnya 2.000 warga Lebanon syahid, serta belasan tentara Israel dan tiga penjaga perdamaian asal Indonesia gugur.
Di lapangan, suasana perayaan sempat menyelimuti Beirut sesaat setelah gencatan senjata dimulai. Meski begitu, Israel tercatat masih melancarkan puluhan serangan udara di Lebanon selatan satu jam sebelum kesepakatan berlaku. Hizbullah pun dilaporkan terus menargetkan posisi militer Israel di perbatasan.
Upaya mediasi yang dipimpin oleh Pakistan menjadi kunci dalam negosiasi ini. Panglima Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, dilaporkan telah bertemu dengan pihak Iran untuk membahas isu-isu sulit, termasuk nasib cadangan uranium yang diperkaya tinggi. Sebagai kompensasi, Washington dikabarkan menawarkan pencabutan sanksi dan pencairan aset Iran senilai miliaran dolar.
Trump menegaskan telah menjalin komunikasi dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun untuk membicarakan perdamaian abadi. Meski kemajuan telah dicapai, pejabat senior Iran mengingatkan bahwa masih ada perbedaan mendasar mengenai program nuklir yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Penutupan Selat Hormuz akibat konflik ini sebelumnya telah memaksa Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan prospek ekonomi global. Kini, dunia menantikan apakah perundingan lanjutan di Islamabad nanti mampu mengakhiri kebuntuan, membuka kembali jalur minyak strategis, dan meredam ketegangan yang mengancam resesi global.
























