Jakarta – Investor di pasar modal Indonesia diminta untuk tetap tenang dan fokus pada fundamental perusahaan di tengah meningkatnya volatilitas pasar akibat sentimen global.
Status Indonesia yang masuk dalam daftar pantauan atau watchlist oleh S&P Global dinilai hanya memberikan dampak psikologis sementara.
Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, menegaskan bahwa status tersebut belum bersifat final dan masih akan melalui proses evaluasi lebih lanjut.
Ia menyarankan pelaku pasar untuk tidak terlalu reaktif terhadap sentimen jangka pendek yang dipicu oleh kebijakan internasional.
“Kalau kita tidak terlalu memperhatikan kebijakan pemerintah dan fokus pada valuasi, saya kira ini waktu yang bagus untuk beli. Namun, jangan berharap setelah beli bulan depan langsung naik,” ujar Rudiyanto dikutip dari Pernyataan Resmi, Sabtu (18/7/2026).
Pernyataan tersebut menyoroti bahwa saat ini merupakan momentum yang tepat untuk melakukan akumulasi aset karena valuasi banyak saham unggulan telah terkoreksi ke level yang lebih murah.
Beberapa emiten berkapitalisasi besar bahkan tercatat menawarkan tingkat imbal hasil dividen atau dividend yield yang cukup menarik bagi investor jangka panjang.
Strategi yang disarankan adalah melakukan pembelian secara bertahap dengan tetap mengedepankan kualitas fundamental perusahaan serta kemampuan laba yang berkelanjutan.
Di sisi lain, bagi investor yang memilih instrumen pendapatan tetap, penyesuaian strategi sangat diperlukan mengingat suku bunga yang masih berada di level tinggi.
Tingginya suku bunga saat ini memberikan tekanan pada harga obligasi di pasar sekunder.
Oleh karena itu, obligasi dengan tenor pendek menjadi pilihan yang lebih rasional untuk meminimalisir risiko volatilitas harga.
Sementara itu, reksa dana pasar uang dinilai tetap menjadi instrumen yang tangguh karena mendapatkan keuntungan dari instrumen berbasis bunga seperti deposito dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Diversifikasi portofolio menjadi kunci utama dalam menghadapi ketidakpastian pasar domestik saat ini.
Investor dengan profil konservatif disarankan untuk memperbesar porsi pada instrumen pasar uang guna menjaga keamanan modal.
Bagi investor yang memiliki toleransi risiko lebih tinggi, sektor saham komoditas seperti energi dan logam masih dinilai memiliki prospek permintaan yang solid.
Langkah diversifikasi tidak hanya terbatas pada aset domestik, namun juga disarankan merambah ke pasar luar negeri.
Reksa dana berbasis dolar AS dinilai dapat menjadi alternatif yang efektif untuk melindungi nilai portofolio dari tekanan pasar lokal.
Bagi investor dengan skala dana besar, penempatan aset dalam bentuk dolar AS dianggap sebagai langkah strategis untuk memitigasi risiko fluktuasi nilai tukar.
Secara keseluruhan, kunci sukses investasi di tengah kondisi saat ini adalah kedisiplinan dalam mengalokasikan aset sesuai dengan profil risiko masing-masing.
Investor diingatkan untuk menghindari menempatkan seluruh dana pada satu instrumen investasi saja untuk menjaga stabilitas portofolio.




















