Wall Street Melemah, Investor Cermati Eskalasi Iran dan Laporan Keuangan

Rayhan Akhari

Wall Street Melemah, Investor Cermati Eskalasi Iran dan Laporan Keuangan

New York – Pasar saham Amerika Serikat menutup sesi perdagangan Senin (20/7/2026) dengan pelemahan pada seluruh indeks utama.

Koreksi ini mencerminkan sikap kehati-hatian investor di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Pelaku pasar juga memilih untuk menahan diri sambil menunggu rilis laporan laba perusahaan teknologi raksasa pekan ini.

Indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan penurunan sebesar 307,16 poin atau 0,59% ke level 51.839,26.

Indeks S&P 500 ikut melemah 14,41 poin atau 0,19% menjadi 7.443,28.

Sementara itu, Nasdaq Composite terkoreksi tipis 12,17 poin atau 0,05% ke posisi 25.508,07.

Tekanan pada S&P 500 utamanya dipicu oleh pelemahan saham Apple Inc sebesar 2%.

Di sisi lain, Microsoft menjadi pendukung utama yang menjaga pergerakan indeks agar tidak jatuh lebih dalam.

Optimisme pasar sempat muncul pada saham Global Payments Inc yang melonjak 5,8%.

Kenaikan tersebut terjadi setelah Morgan Stanley meningkatkan peringkat saham perusahaan menjadi overweight.

Target harga saham tersebut juga direvisi naik menjadi $100 dari sebelumnya $65, Reuters melaporkan pada Selasa (21/7/2026).

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 15,50 miliar saham pada sesi Senin.

Angka tersebut masih berada di bawah rata-rata volume harian 20 hari terakhir yang tercatat sebanyak 19,94 miliar saham.

Nasdaq menunjukkan ketahanan lebih baik dibandingkan Dow Jones dan S&P 500 karena pemulihan sektor chip.

Sektor pertumbuhan, seperti layanan komunikasi dan teknologi, turut mencatatkan kenaikan bersamaan dengan saham sektor energi.

Fokus investor kini tertuju pada laporan keuangan kuartal kedua yang akan dirilis oleh Alphabet, Tesla, dan Intel.

Data kinerja perusahaan-perusahaan besar ini sangat krusial untuk memetakan kesehatan ekonomi Amerika Serikat.

“Semua orang menunggu musim pendapatan benar-benar dimulai,” ujar Presiden Chase Investment Counsel, Peter Tuz, dikutip Reuters.

Tuz menambahkan bahwa investor cenderung menahan diri menjelang rilis hasil laba dari sektor teknologi dan energi.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Houthi Yaman dan Arab Saudi.

Ketegangan ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi dan perdagangan global.

Di sisi lain, terdapat upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Mediator dikabarkan telah mengajukan proposal gencatan senjata selama 10 hari kepada pihak Iran.

Kepala strategi pasar CIO untuk Merrill dan BofA Private Bank, Joe Quinlan, menilai investor sangat memperhatikan potensi resolusi konflik.

“Harapannya adalah jika Anda mendapatkan semacam resolusi, lebih sedikit pemboman, lebih banyak pembicaraan di Timur Tengah—maka harga minyak dan bensin tidak akan setinggi yang kita lihat awal tahun ini,” kata Quinlan.

Penurunan harga energi diharapkan dapat mengurangi tekanan inflasi bagi konsumen.

Data LSEG menunjukkan proyeksi pertumbuhan pendapatan S&P 500 untuk kuartal kedua mencapai 26% secara tahun-ke-tahun.

Target tersebut meningkat dibandingkan estimasi sebelumnya yang berada di angka 23,7%.

Investor juga memantau ketat produsen chip seperti Intel dan Texas Instruments untuk mencari sinyal pemulihan pasar.

Sektor semikonduktor saat ini masih berada dalam fase bearish setelah terkoreksi lebih dari 20% sejak rekor tertinggi Juni lalu.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar