Wall Street Menguat Usai The Fed Isyaratkan Tahan Suku Bunga

Kholida Rahman

Wall Street Menguat Usai The Fed Isyaratkan Tahan Suku Bunga

New York – Bursa saham Amerika Serikat mencatatkan penguatan pada pembukaan perdagangan Kamis (3/9/2026) setelah sinyal kebijakan moneter dari Federal Reserve memberikan ruang bagi optimisme pasar.

Indeks Dow Jones Industrial Average melesat 247,2 poin atau 0,47% ke level 53.309,17.

Indeks S&P 500 turut menguat 20,1 poin atau 0,26% menuju level 7.686,71.

Indeks Nasdaq Composite menyusul dengan kenaikan 118,5 poin atau 0,45% ke posisi 26.336,322.

Sentimen positif ini muncul setelah Gubernur Federal Reserve Christopher Waller menyatakan keterbukaan untuk menahan suku bunga bulan ini.

Syarat utama dari kebijakan tersebut adalah adanya konfirmasi data ekonomi yang menunjukkan penurunan tekanan inflasi.

Kutipan pernyataan resmi tersebut disampaikan sebagaimana dilansir dari Reuters, Kamis (3/9/2026).

Meski demikian, para pelaku pasar tetap bersikap waspada terhadap rilis data ketenagakerjaan yang dijadwalkan pada hari Jumat.

Kewaspadaan tersebut dipicu oleh pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh yang menegaskan pengendalian inflasi tetap menjadi prioritas utama bank sentral.

Data dari perangkat CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga pada September telah mencapai 62%.

“Saya memperkirakan bulan September yang cukup kacau. Ini benar-benar musim yang penuh gejolak layaknya roller coaster,” ujar Kim Forrest, Chief Investment Officer di Bokeh Capital Partners, Kamis (3/9/2026).

Potensi kenaikan inflasi juga dipicu oleh konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada harga energi, di mana kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 1,22%.

Kenaikan harga minyak ini telah berlangsung selama empat hari berturut-turut.

“Harga minyak kembali mencerminkan premi risiko geopolitik, menciptakan potensi masalah inflasi baru di saat pasar sedang memperdebatkan apakah suku bunga AS perlu dinaikkan,” kata Daniela Hathorn, analis pasar senior di Capital.com, Kamis (3/9/2026).

Di sisi lain, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS memberikan sedikit sentimen positif bagi pasar saham.

“Saya yakin sisa tahun ini akan membawa gangguan-gangguan baru, namun satu gangguan yang tidak terlalu saya khawatirkan adalah kenaikan imbal hasil obligasi,” ungkap Benjamin Jones, kepala riset global di Invesco, Kamis (3/9/2026).

Pergerakan saham individual menunjukkan dinamika yang beragam di sektor teknologi.

Saham Broadcom mengalami tekanan dengan penurunan sebesar 3,32% pada perdagangan pra-pasar.

Penurunan tersebut terjadi setelah proyeksi pendapatan kuartal keempat perusahaan gagal memenuhi ekspektasi Wall Street.

Sebaliknya, saham Snowflake mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 23,18% berkat proyeksi pendapatan tahunan yang solid.

Sentimen positif dari Snowflake turut mendongkrak saham sektor perangkat lunak lainnya.

ServiceNow naik 3,17%, sementara Salesforce dan Adobe masing-masing menguat sekitar 1,50% dan 1,45%.

Analis eToro, Jakub Rochlitz, mengingatkan bahwa bulan September secara historis merupakan periode yang menantang bagi pasar modal.

Menurut data historis, sembilan dari 40 penurunan terburuk dalam sejarah indeks S&P 500 tercatat terjadi pada bulan September.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar