Jakarta – PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) resmi memperoleh tambahan fasilitas kredit investasi sebesar Rp 4 triliun dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA).
Langkah strategis ini diambil perusahaan untuk mengakselerasi ekspansi jaringan infrastruktur telekomunikasi pasca-merger efektif pada April 2026.
Kesepakatan tersebut dituangkan dalam Akta Perubahan Pertama atas Perjanjian Kredit yang diteken kedua belah pihak pada 31 Agustus 2026.
Berdasarkan dokumen keterbukaan informasi yang diterbitkan pada 2 September 2026, nilai kredit tersebut setara dengan 50,54% dari total ekuitas perseroan.
Manajemen MORA menyebutkan dalam keterbukaan informasi, dikutip Kamis (3/9), bahwa perjanjian ini dikategorikan sebagai transaksi material karena melampaui ambang batas 50% dari ekuitas perusahaan yang tercatat sebesar Rp 7,91 triliun pada laporan keuangan akhir 2025.
Namun, perseroan menegaskan bahwa transaksi ini masuk dalam kategori pengecualian sesuai dengan ketentuan Pasal 11 huruf b POJK Nomor 17 Tahun 2020.
Jangka waktu fasilitas kredit ini ditetapkan maksimal tujuh tahun, yang mencakup masa tenggang atau grace period selama satu tahun.
Sebagai jaminan, MORA menyerahkan akta jaminan fidusia atas aset homepass beserta peralatannya dan hasil klaim asuransi dengan nilai penjaminan minimal 125% dari jumlah pokok.
Selain itu, terdapat pula mekanisme gadai atas sejumlah rekening milik perseroan yang berada di BCA.
Dana pinjaman tersebut secara spesifik akan dialokasikan untuk belanja modal pembangunan homepass, termasuk pengadaan Customer Premises Equipment (CPE) serta sarana pendukung operasional lainnya.
Manajemen menegaskan, penggunaan dana ini tidak mencakup pengembangan infrastruktur untuk layanan Fixed Wireless Access (FWA).
“Tambahan fasilitas kredit investasi yang diterima perseroan akan digunakan untuk pembiayaan belanja modal pembangunan homepass termasuk CPE, beserta sarana dan prasarana pendukung operasional lainnya,” tulis manajemen dalam pernyataan resmi, dikutip Kamis (3/9).
Perusahaan menyatakan bahwa penambahan utang ini masih berada dalam batasan rasio keuangan yang diperkenankan oleh perjanjian perwaliamanatan sukuk yang sebelumnya telah diterbitkan.
Dari sisi analis, langkah MORA dinilai membawa sentimen positif bagi prospek bisnis jangka menengah dan panjang.
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menyatakan bahwa pendanaan ini memberikan ruang bagi perseroan untuk memperluas cakupan wilayah layanan secara agresif.
“Menurut saya tambahan kredit investasi Rp 4 triliun dari BCA cukup positif bagi MORA karena memberikan ruang untuk mempercepat ekspansi jaringan homepass, memperluas coverage, dan meningkatkan basis pelanggan,” ujar Elandry, dikutip Kamis (3/9).
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa investor harus tetap mencermati risiko kenaikan beban bunga dan tingkat utang perusahaan.
Menurutnya, ukuran keberhasilan utama bagi investor bukan sekadar jumlah homepass yang dibangun, melainkan tingkat take-up rate dan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas.
“Jadi yang paling penting bukan hanya pertumbuhan jumlah homepass, tetapi take-up rate, pertumbuhan pelanggan, ARPU, dan kemampuan menghasilkan cash flow,” tambah Elandry.
Senada dengan hal tersebut, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menekankan pentingnya efektivitas konversi infrastruktur menjadi pelanggan produktif.
“Dampak akhirnya terhadap MORA akan sangat bergantung pada efektivitas perseroan dalam mengonversi tambahan homepass menjadi pelanggan produktif dan menghasilkan return yang lebih tinggi daripada biaya pendanaannya,” kata Nafan, dikutip Kamis (3/9).




















