Rupiah Melemah ke Rp 17.894 per Dolar AS, Terlemah di Asia

Kholida Rahman

Rupiah Melemah ke Rp 17.894 per Dolar AS, Terlemah di Asia

Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan kinerja negatif dalam perdagangan pasar spot pada Kamis, 24 September 2026.

Mata uang Garuda tertekan hingga menyentuh level Rp 17.894 per dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi tengah hari.

Posisi ini mencerminkan pelemahan sebesar 0,43% dibandingkan angka penutupan pada hari perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp 17.884 per dolar AS.

Derasnya tekanan jual membuat rupiah menempati posisi sebagai mata uang dengan performa terlemah di kawasan Asia pada hari ini.

Volatilitas pasar sempat membawa nilai tukar rupiah menembus ambang batas psikologis di atas Rp 17.900 per dolar AS.

Data pasar menunjukkan titik terendah rupiah terjadi pada pukul 09.22 WIB, di mana mata uang domestik sempat terperosok ke level Rp 17.915 per dolar AS.

Kondisi pasar keuangan Asia hingga pukul 11.50 WIB terpantau bergerak bervariasi dengan kecenderungan terkoreksi di beberapa negara.

Won Korea Selatan membuntuti pelemahan rupiah dengan penurunan nilai tukar sebesar 0,4%.

Sentimen negatif juga menimpa mata uang regional lainnya di tengah penguatan indeks dolar AS.

Dolar Taiwan tercatat mengalami tekanan sebesar 0,37% terhadap mata uang Negeri Paman Sam tersebut.

Peso Filipina menyusul dengan koreksi sebesar 0,21% pada sesi perdagangan yang sama.

Rupee India turut terdepresiasi sebesar 0,14% di pasar valuta asing kawasan.

Sementara itu, yuan China mencatatkan pelemahan tipis sebesar 0,05% terhadap the greenback.

Di sisi lain, beberapa mata uang di Asia justru mampu menunjukkan ketahanan dan mencatatkan penguatan di tengah tren pelemahan regional.

Yen Jepang tampil sebagai mata uang dengan performa terbaik setelah melesat sebesar 0,24%.

Baht Thailand juga menunjukkan pergerakan positif dengan kenaikan sebesar 0,08%.

Dolar Singapura mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,03% di tengah dinamika pasar global.

Ringgit Malaysia turut terapresiasi sebesar 0,02% pada perdagangan hari ini.

Dolar Hong Kong menutup daftar mata uang yang menguat dengan kenaikan tipis sebesar 0,01%.

Pergerakan nilai tukar ini dipengaruhi oleh dinamika pasar keuangan global yang saat ini tengah memantau berbagai sentimen ekonomi.

Ketidakpastian kebijakan moneter global sering kali menjadi pemicu utama fluktuasi mata uang di negara berkembang.

Para pelaku pasar kini tengah mencermati respons otoritas moneter terhadap tekanan inflasi yang masih membayangi ekonomi global.

Kondisi ini menuntut kewaspadaan lebih bagi investor terhadap potensi volatilitas yang mungkin berlanjut hingga akhir sesi perdagangan.

Stabilitas rupiah ke depan akan sangat bergantung pada intervensi pasar dan data ekonomi makro yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi mengenai langkah mitigasi lebih lanjut dari pihak otoritas terkait mengenai pelemahan nilai tukar tersebut.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar